BIJAK MENAHAN KATA

Baca: Bilangan 20:2-13


Bacaan tahunan: 1 Tawarikh 27-29

Pepatah "Lidah lebih tajam daripada pedang" seringkali diartikan bahwa kata-kata kasar disertai amarah yang keluar dari mulut kita dapat menyakiti orang lain dengan sangat dalam. Namun, tidak hanya menyakiti orang lain, kata-kata kasar sebenarnya juga menyakiti diri sendiri dan membawa kerugian.

Musa salah satu bukti nyatanya. Suatu kali, bangsa Israel kembali mengeluh kepada Musa karena tidak ada air di padang gurun. Musa dan Harun segera menemui Tuhan, lalu Dia memerintahkan Musa untuk berkata kepada bukit batu di depan bangsa Israel agar terpancar air. Karena Musa mungkin sudah lelah mendengar kata-kata tidak mengenakkan yang keluar dari mulut bangsa Israel, emosi Musa memuncak dan dia mengatakan "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" (ay. 10). Tidak hanya itu, dengan emosi Musa memukul batu itu sampai dua kali, padahal seharusnya Musa cukup berkata saja maka akan keluar air. Musa mendukakan Tuhan, di dalam kata dan perbuatan.

Kita mungkin seringkali mengalami hal yang sama dengan Musa. Ketika emosi memuncak, perkataan dan perbuatan kita tidak terkontrol. Akhirnya kita menyakiti orang lain dan ujung-ujungnya kita sendiri juga ikut terluka. Baiklah kita belajar bijak dalam mengeluarkan kata-kata dari mulut kita. Apabila kita emosi, tahanlah kata-kata kasar yang hendak dikeluarkan. Tenangkan hati. Jangan sampai kita menjadi seperti Musa yang kemudian dihukum Tuhan hingga tidak bisa masuk ke tanah perjanjian (ay. 12). --NBT/Renungan Harian


JIKA TIDAK ADA KATA BAIK YANG BISA KELUAR DARI MULUT KITA, LEBIH BAIK KITA DIAM.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media