KARIB DENGAN TUHAN

Baca: Keluaran 33:1-23


Bacaan tahunan: Mazmur 81-87

Dengan sahabat karib, kita lebih mengenal sifat, kebiasaan dan kesenangannya. Kadang sebelum dia berbicara, kita sudah tahu apa maunya. Demikian pula Musa. Ia akrab dengan Tuhan. Keinginannya bisa ia ungkapkan langsung kepada Tuhan dengan berhadapan muka.

Padahal, tidak seorang pun yang dapat melihat Allah dan tetap hidup. Hanya orang yang suci hatinya yang dapat melihat Allah. Setelah peristiwa anak lembu emas, Musa membentangkan sebuah kemah di luar perkemahan orang Israel agar setiap orang yang mencari Tuhan dapat datang ke kemah itu. Ini merupakan anugerah bagi bangsa Israel, mengingat mereka adalah bangsa pemberontak. Dosa menghalangi keakraban mereka dengan Tuhan. Namun anugerah-Nya tetap nyata bagi mereka melalui Kemah Pertemuan. Di Kemah Pertemuan itu, Tuhan berbicara dan menyatakan janji penyertaan kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.

Bisa akrab dengan Allah tentu merupakan anugerah. Anugerah yang direspons dengan penyembahan dan ketaatan pada kehendak-Nya. Menjadi karib dengan Allah akan merasakan dan menikmati hadirat Tuhan. Bagi kita, Kristuslah pengantara kita yang mempersatukan kita dengan Allah. Melihat Kristus berarti melihat Allah karena di dalam Dialah seluruh kepenuhan Allah berada. Di dalam Kristus, kita dapat bergaul akrab dengan Allah, melalui persekutuan pribadi dengan Allah tiap-tiap hari. Namun tentu keakraban itu harus direspons dengan hidup suci dan taat pada firman-Nya. --ENO/www.renunganharian.net


KEAKRABAN DENGAN TUHAN MEMBUAT KITA SEMAKIN MUDAH MENGERTI KEMAUAN-NYA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media