KUCING YANG LUKA

Baca: Kisah Para Rasul 5:1-11


Bacaan tahunan: Yosua 1-3

Saat masih kecil, saya bermain pencukur kumis milik Ayah. Salah satu jari saya tergores silet dan darahnya tercecer di meja rias. Waktu Ibu melihat percikan darah di atas meja, ia bertanya siapa yang berdarah. "Kucingnya luka main silet, " jawab saya. "Masa iya kucing main silet?" tanya Ibu. Saya tak bisa menjawab. Dengan lembut Ibu memeriksa tangan saya dan mendapati luka itu. Ia membersihkan luka itu dan mengolesinya dengan obat. "Lain kali kalau luka jangan disembunyikan, ya, " kata Ibu.

Kebenaran adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berbohong, kita menyakiti hati-Nya. Kebohongan menghancurkan hidup kita. Resep sederhana agar tidak jatuh ke dalam dosa kebohongan adalah berkatalah jujur. Tidak seorang pun dapat lolos dari dosa berbohong. Ananias dan Safira mengira mereka bisa membohongi rasul-rasul dan jemaat. Keduanya menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah (ay. 2). Betul Petrus tidak tahu, tapi Roh Kudus tahu. Mereka bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (ay. 4). Tuhan tidak menyukai kebohongan dan Dia akan menyingkapkannya. Kalau pun kebohongan itu tidak terbongkar selama kita hidup, kita tetap harus bertanggung jawab di hadapan Allah saat pengadilan terakhir.

Kalau kita pernah membohongi seseorang atau beberapa orang dengan alasan tertentu, akuilah hal itu kepadanya dan kepada Tuhan. Ini perlu kerendahan hati. Percayalah, saat kita mau mengaku kesalahan, kita akan merasa lega dan dapat melanjutkan langkah untuk hidup secara jujur. --RTG/Renungan Harian


KEBOHONGAN MENYESAKKAN HATI; KEJUJURAN MENDATANGKAN KELEGAAN.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media