MENGHARGAI KAUM DIFABEL

Baca: Imamat 19


Bacaan tahunan: Efesus 1-3

Suatu ketika, saya menemukan flashdisk anak saya dalam kondisi bengkok, tetapi masih digunakannya. Waktu itu ia masih di bangku SD. Karena harganya tidak murah, saya pun ingin mengetahui apa yang membuat flashdisk itu melengkung ke samping. Ternyata flashdisk itu dicabut paksa dari komputer sekolah dan dibawa lari oleh temannya. Anak saya mengejar untuk mengambilnya kembali. Namun, ia tidak memarahi temannya karena ternyata temannya itu menderita gangguan mental. Rupanya guru sudah mengajarkan agar siswa tidak menertawakan dan melecehkan kaum difabel.

Kita yang beranggota tubuh lengkap dan sehat tidak mungkin mampu memahami sepenuhnya rasa frustrasi saudara kita yang difabel. Kita semestinya belajar berempati kepada mereka. Ini adalah kewajiban kita untuk hidup kudus di hadapan TUHAN (ay. 2). Begitu pula, salah satu wujud rasa takut akan TUHAN adalah tidak mengutuki, sengaja mengganggu, atau melecehkan orang difabel. Menghargai orang yang kurang beruntung karena difabel menunjukkan perasaan belas kasih kita. Kelak kita juga akan mendapat belas kasihan ketika kita sendiri dihakimi (Yak. 2:13).

Beberapa wilayah di dunia telah merancang bangun kota agar kaum difabel dapat beraktivitas lebih mudah dan baik. Pemimpin pemerintahan yang baik biasanya juga adalah mereka yang memerhatikan dan menolong penyandang disabilitas. Kita sepatutnya mendukung program pemerintah yang memberdayakan kaum difabel ini. --HEM/www.renunganharian.net


TAKUT AKAN TUHAN MEWUJUDKAN DIRI DALAM BENTUK PERHATIAN KEPADA KAUM DIFABEL.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media