RINDU SOSOK AYAH

Baca: Kejadian 1:26-30; 2:15


Bacaan tahunan: Kisah Para Rasul 9-10

Ayah saya seorang sopir taksi. Pagi-pagi buta ia berangkat bekerja, dan senja hari baru pulang ke rumah. Terkadang ia membawa cukup banyak uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun di hari lain ia pulang dengan tubuh loyo dan wajah kusut, sebab tak ada uang yang bisa dibawa pulang-apa yang didapatnya hanya cukup untuk disetorkan ke pemilik taksi. Walau demikian, ayah saya adalah pribadi yang kuat. Ia tak pernah menyerah untuk menghidupi sembilan anaknya. Tak jarang ia harus tetap berangkat bekerja sekalipun sedang sakit. Itulah kodrat seorang laki-laki yang menunaikan tugas panggilannya sebagai kepala keluarga dan ayah (Kej. 3:17-19).

Bagi seorang pria/ayah, bekerja dan berjerih lelah menghidupi keluarga bukanlah hukuman karena dosa. Sebab sebelum manusia berdosa, Tuhan sudah memberi mandat kepada Adam untuk bekerja, mengusahakan bumi yang Allah anugerahkan kepadanya. Kerja bisa dirasa sebagai kutuk, bila dipahami sebagai beban berat yang melelahkan atau kewajiban tanpa akhir yang harus dipikul sendiri, jauh dari Allah. Akan berbeda bila seorang pria dekat dengan Allah. Sebagai kepala keluarga, ia bukan hanya bekerja memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan bagi anak-anaknya. Namun ia adalah imam bagi keluarganya, yang membawa anak-anak dan keluarganya mendekat dan beribadah kepada Tuhan dengan rasa syukur (bdk. ay. 15, Ef. 6:4).

Kini, ayah saya sudah tiada. Saya kangen pada sosoknya yang kuat dan penuh cinta. Sebab melaluinya, saya mengenal figur Allah Bapa yang di surga. --SST/www.renunganharian.net


MELALUI AYAH, KITA MENGENAL FIGUR ALLAH BAPA DI SURGA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media