SEPUTIH SALJU

Baca: Mazmur 51:7-13


Bacaan tahunan: 1 Tawarikh 17-20

Waktu remaja kita sering mengisi semacam biodata di buku teman. Macam-macam yang harus diisi: nama, alamat, hobi, cita-cita. Seorang teman menulis: "Bertobat" di point hobi. Kaget saya! Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab, "Karena setelah menyesali dosaku, aku mengulanginya, lalu menyesalinya dan kemudian mengulanginya lagi. Jelas aku ini hobi bertobat!" Apakah kita tidak demikian?

Mazmur ini ditulis karena penyesalan Daud atas perilakunya yang tercela tidur dengan Betsyeba, istri Uria. Uria sendiri mati karena rekayasa jahat Daud. Nabi Natan menegurnya dengan keras. Anak hasil hubungan Daud dan Betsyeba akan mati. Daud sangat sedih dan menyesal. Ini adalah puisi dari orang yang malu dan remuk hatinya dengan keberdosaannya. Daud minta dikasihani (ay. 3), lalu ia mohon agar Allah berkenan menghapus dosanya karena rahmat-Nya yang besar itu. Daud rindu berhati bersih, bukan sekedar bersih, namun sepenuhnya bersih (ay. 4a). Ia memohon dengan penuh kesadaran diri: "Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku dan senantiasa bergumul dengan dosaku". Ini menarik! Daud mengawali dengan kesadaran dan kemudian dengan serius menggumuli dosanya. Kita sering tidak berani bergumul. Begitu tahu kita berdosa, buru-buru kita minta ampun kepada Tuhan. Alasan kita, "Tuhan kan baik". Betul. Tapi ingat bahwa kebaikan Tuhan bukan tiket bagi kita untuk hobi berdosa. Jika kita sungguh rindu bertobat, kita harus sungguh bergumul dan jangan memandang ringan penebusan Tuhan.

Baru dengan demikian, seperti Daud kita dapat memohon "Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju...." --DKL/Renungan Harian


DARI TOBAT MURAHAN, JAUHKANLAH AKU YA TUHAN.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media