TAK BERGANTUNG CUACA

Baca: Mazmur 63


Bacaan tahunan: Imamat 16-18

Dalam sebuah perjalanan dengan mobil, saya tercengang menyaksikan betapa tidak tetapnya cuaca yang sedang terjadi pada suatu pagi. Saat hendak memulai perjalanan, matahari bersinar dengan percaya diri, namun di tengah perjalanan awan hitam bergulung-gulung dan mulai menitikkan hujan. Baru saja hujan turun, awan hitam itu pergi dan mentari kembali menampakkan diri. Sungguh membingungkan, membuat perasaan tidak nyaman dan penuh ketidakpastian.

Dalam cuaca ekstrem kehidupannya, Daud memilih mengingat akan kasih Ilahi yang tak henti menaunginya, walaupun musuhnya mengejar dan hendak mencabut nyawanya (ay. 10). Ia percaya bahwa kesetiaan Tuhan tetap menjadi pegangannya yang terbaik untuk maju menghadapi segala cuaca kehidupan (ay. 4). Andai kata kasih Tuhan seperti cuaca, entah apa jadinya hidup kita. Kepada siapa kita memohon jika Ia tidak dapat ditemui saat sedang hujan lebat, kemana kita akan berteduh jika kasih-Nya ikut menguap saat mentari datang?

Saat ketidakpastian mulai menampakkan diri dalam hidup kita, tetaplah percaya bahwa Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan limpah kasih-Nya lebih berkuasa dari apapun, perlindungan-Nya tetap bagi mereka yang jiwanya melekat kepada-Nya (ay. 9). Itulah satu-satunya yang menjadi jaminan kita, lebih baik dari apapun juga di dunia ini. Pertanyaannya, apakah kasih kita kepada-Nya juga tetap teruji di tengah cuaca hidup yang tidak pasti? --YES/www.renunganharian.net


CUACA BOLEH BERGANTI, TUHAN TETAP PEGANG KENDALI.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media