TERANG ITU BAIK

Baca: Kejadian 1:3-5


Bacaan tahunan: Kejadian 22-24

Suatu hari, saya bekerja lembur dengan harapan pekerjaan saya selesai sebelum matahari terbit. Ternyata, sampai dengan terbitnya matahari, pekerjaan itu belum berhasil saya rampungkan. Akibatnya, saya merasa tidak bersyukur ketika terang merekah pada pagi hari. Saya justru bersungut-sungut karena memandang terang itu sebagai pertanda buruk dari sang waktu yang tidak bisa berkompromi.

Akan tetapi, diperhadapkan dengan bacaan saat ini, saya jadi merenung: Sesuaikah pandangan saya tadi dengan pandangan Allah? Bukankah sejak awal penciptaan, Allah melihat bahwa "terang itu baik"? Bagi Allah, terang yang diciptakan-Nya pada hari pertama itu baik karena menyatakan keberadaan-Nya sebagai Terang Abadi. Allah juga melihat bahwa terang ciptaan-Nya itu baik karena dengan bantuan terang itulah, segala yang tercipta pada hari-hari berikutnya bisa melihat karya kemuliaan-Nya. Memang, saat itu kegelapan belum lenyap sama sekali. Namun, Allah mengatur sedemikian rupa sehingga gelap petang akhirnya diganti dengan remang pagi dan remang pagi menjadi siang terang.

Ya, terang itu baik. Oleh karena itu, setiap kali melihat terang itu merekah, sepatutnya kita bersukacita dan mengucap syukur kepada Allah. Biarlah terang itu mengingatkan kita akan kebaikan- Nya. Bersama Philipp von Zesen dan Johann Georg Ahle, kita bisa bernyanyi: "Gembira sekali kulihat kembali terang merekah, dan Bapa di surga, yang Bapaku juga, hendak kusembah" (KJ 322:2). --YAP/www.renunganharian.net


BERSYUKURLAH SETIAP MELIHAT TERANG MEREKAH KARENA TERANG ITU BAIK DI MATA ALLAH.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media