TERLANJUR MENGIKAT PERJANJIAN

Baca: Yosua 9:1-21


Bacaan tahunan: 1 Tawarikh 24-26

Seorang laki-laki yang bercerai berkata pada hamba Tuhan, "Saya tidak menyangka kalau dampak perpisahan itu ternyata sangat buruk bagi anak kami." Sekalipun berempati terhadap pengalaman pahit laki-laki itu, ia tak bisa berbuat banyak. Ia menyayangkan, pemahaman itu baru setelah perceraian terjadi. Nasi telah menjadi bubur, perceraian itu kini hanya mendatangkan penyesalan yang berlarut-larut.

Yosua pernah keliru mengambil keputusan ketika ia mengikat perjanjian dengan penduduk Gibeon tanpa melibatkan Allah (ay. 14). Sebetulnya orang Israel sempat mencurigai penduduk Gibeon, tetapi akhirnya mereka bertindak gegabah, lalu mengikat perjanjian dengan bangsa asing itu (ay. 7-14). Seandainya mereka bertanya kepada Allah dan mencari tahu kehendak-Nya sebelum memutuskan, niscaya mereka tidak akan mengambil keputusan yang keliru. Akibatnya, Yosua dan bangsa Israel harus menanggung akibat dari keputusan keliru tersebut untuk jangka waktu yang lama (ay. 19-21).

Dalam hidup ini, keputusan yang berkaitan dengan perjanjian atau komitmen akan berdampak besar dan lama, misalnya keputusan untuk menikah, bercerai, menerima pekerjaan, berpindah pekerjaan, dan sebagainya. Mereka yang tidak melibatkan Allah berpotensi mengambil keputusan yang keliru. Apakah kita sedang mempertimbangkan sesuatu yang berkaitan dengan perjanjian atau komitmen? Berhati-hatilah sebelum memutuskan, supaya kelak kita tidak akan mengalami penyesalan yang tiada berujung! --GHJ/Renungan Harian


KETIKA TUHAN DILIBATKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN, DIA AKAN MENUNTUN DAN MENGARAHKAN KITA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media