MENGUBAH MOTIVASI BERIBADAH

Baca: Amos 5:21-27


Bacaan tahunan: Yeremia 23-25

Anda mungkin pernah membaca tulisan atau meme (semacam kartun mini) yang memuat ajakan bergereja pada hari Minggu: "Jangan lupa ke gereja, biar tambah tampan." Kurang lebih begitulah yang dituliskan, atau kadang ditambahi gambar tertentu, dan biasanya yang mengirimkannya adalah kaum hawa. Tujuannya jelas, mereka ingin pria yang mereka sayangi tidak melupakan ibadah. Yang jadi pertanyaannya, benarkah rutin bergereja membuat kita hidup berkenan kepada-Nya?

Amos adalah nabi yang melayani pada masa raja Yerobeam II. Pada saat itu, orang Israel gemar beribadah kepada Tuhan. Perayaan-perayaan ibadah dihadiri banyak orang. Namun, keadilan tidak menjadi perhatian para pemuka agama. Orang miskin dieksploitasi orang kaya, ibadah menjadi sekadar rutinitas, dan pendengar firman tak lain adalah orang-orang yang sekadar beribadah. Di tengah-tengah situasi seperti inilah Amos berseru agar keadilan dan kebenaran mengalir, ditegakkan di tengah masyarakat. Keadaan itu mirip dengan yang terjadi pada zaman nabi Yesaya (Yes. 1:13-16).

Apakah motivasi kita beribadah? Karena "hari Minggu terasa tidak lengkap kalau tidak ke gereja"? Atau ingin menyukakan orang-orang tertentu, seperti pasangan kita, yang akan memuji kita lebih tampan atau cantik bila kita beribadah? Ibadah yang sejati lahir dari niat untuk menjadi pelaku firman (Yak. 1:22). Dan pelaku firman adalah orang-orang yang suka mencari kebenaran dan keadilan untuk ia lakukan dan ia pertahankan dalam kehidupannya. --SN/www.renunganharian.net


IBADAH MENJADI BERMAKNA KARENA ORANG MERINDUKAN KEBENARAN, BUKAN SEMATA-MATA MENCARI PUJIAN.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media