MAKNA HIDUP YANG SEJATI

Baca: Pengkhotbah 12:9-14


Bacaan tahunan: Amsal 1-5

Kitab Pengkhotbah sarat dengan renungan dari seseorang yang sudah menjalani kehidupan dalam segala kelimpahan harta benda, pengetahuan, dan pengalaman hidup. Kehidupan yang penuh pasang surut dan berakhir pada kesimpulan bahwa kehidupan yang dijalani tanpa disertai rasa takut akan Tuhan, semuanya adalah kesia-siaan belaka (kata "sia-sia" tercatat 37 kali dalam kitab ini).

Pengkhotbah mengajak pembacanya agar tidak melandaskan nilai-nilai kehidupan pada pencarian dan kenikmatan kekayaan dunia serta pemuasan ambisi pribadi semata. Kesejatian hidup tidak terletak pada semuanya itu, kata si Pengkhotbah. Melalui deretan catatan fakta, kumpulan nasihat bahkan sindiran (Pkh. 11:9-10) dia meneguhkan pesannya bahwa kesejatian hidup terletak pada pengenalan akan Allah dan firman-Nya (Pkh. 12:1). Tidak ada hal terbaik dalam hidup manusia yang menghadirkan sukacita, kegembiraan dan kepuasan hidup selain dari pengenalan akan Allah (bdk. Yer. 9:23-24). Seluruh kepenuhan hidup terletak pada relasi yang dibangun oleh seseorang dengan Allah di mana hal itu akan mengantarnya kepada kesukaan akan perintah-perintah-Nya, bukan beban.

Dan jangan khawatir. Kita segera mendapati bahwa kita memiliki pertolongan ajaib dalam mengejar makna hidup yang sejati. Karya Roh Kudus yang menghidupkan kita kembali menjamin hal itu. Allah telah memberi segala sesuatu yang kita perlukan untuk memiliki hidup yang takut akan Dia (2Ptr. 1:3). Yang kita perlukan hanyalah sebuah kebergantungan yang total kepada Allah dalam segala sesuatu. --NW/www.renunganharian.net


KESUKAAN KITA TERHADAP PERINTAH ALLAH MENCERMINKAN KASIH SEKALIGUS UKURAN PENGHORMATAN KITA KEPADA-NYA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media