TAK MAU MENYAPA

Baca: Kejadian 37:1-4


Bacaan tahunan: Ayub 17-20

Sebut saja namanya Dani, ayah dari tiga anak yang beranjak remaja. Sebagai orang tua, Dani ingin ketiga anaknya hidup rukun dan saling mengasihi. Benih sakit hati atau kebencian sedapat mungkin tidak boleh mendapat tempat dalam hati mereka. Setiap masalah atau konflik harus segera diselesaikan. Menariknya, Dani tak hanya cakap mengajarkan teori mengenai hidup rukun dan menyelesaikan konflik, tetapi ia sendiri memberi contoh. Ketika berbuat salah terhadap istri maupun anak-anaknya, Dani tak segan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Yusuf muda sempat mengalami ketidaknyamanan ketika ia dibenci oleh para saudaranya. Perlakuan spesial Yakub kepada Yusuf menjadi pemicunya, sehingga para saudara Yusuf tidak mau menyapanya dengan ramah. Namun sayang, tampaknya Yakub tidak menyadari bahwa prahara dalam rumahnya disebabkan oleh tindakannya. Sekiranya Yakub menyadari lalu melakukan sesuatu untuk mendamaikan hubungan antara anak-anaknya, mungkin kebencian para saudara Yusuf tidak akan semakin menjadi-jadi. Sebagai orang tua, Yakub bukannya memastikan agar keluarga besarnya hidup rukun, tetapi justru menjadi pemicu adanya perselisihan dan kebencian bersemi dalam diri mereka.

Keluarga adalah permulaan seseorang belajar hidup rukun, mengasihi, dan saling mengampuni satu dengan yang lain. Masihkah hal itu diajarkan dan dipraktikkan dalam keluarga kita? Mari belajar dari kesalahan Yakub dan jangan biarkan kondisi yang sama terjadi dalam keluarga kita karena dampaknya akan sangat kita sesali kelak. --GHJ/www.renunganharian.net


DISHARMONISASI DALAM KELUARGA TAKKAN SELESAI DENGAN SENDIRINYA, TETAPI HARUS DIBERESKAN.


Navigation

Change Language

Social Media