Renungan Harian
KOTA BENTENGKU
20 August 2026
Benteng Konstantinopel adalah sistem pertahanan berlapis tiga yang legendaris, dibangun di Konstantinopel pada abad ke-5 Masehi oleh Kekaisaran Bizantium. Benteng ini terkenal tak tertembus selama lebih dari 1.000 tahun dengan panjang hingga 5, 5 km dan 244 menara. Meski demikian, akhirnya benteng ini berhasil dirubuhkan.
Terkadang, di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil tangguh, batin kita sebenarnya rapuh karena bersandar pada hal-hal yang bisa hilang dalam sekejap-seperti tabungan, pengakuan orang lain, atau rencana masa depan yang mendadak buyar. Kita lelah karena berusaha membangun benteng bagi diri kita sendiri, padahal kita hanyalah manusia yang butuh tempat bernaung.
Dalam Yesaya 26, Allah tidak menawarkan tembok batu yang dingin, melainkan diri-Nya sendiri sebagai Perlindungan Abadi. Dalam ayat 3, Yesaya menggunakan pengulangan lembut "damai sejahtera" (Shalom-Shalom) bukan tanpa arti. Ini menyatakan pelukan damai yang berlapis-lapis bagi jiwa yang remuk. Inilah damai yang tidak menyisakan ruang bagi ketakutan. Demikian juga Yesaya menyebut nama TUHAN dengan menggunakan dua kata berulang, TUHAN ALLAH (Yah YAHWEH). Yesaya menolong kita mengenali Pribadi yang kesetiaan-Nya berlipat ganda, Pribadi yang tidak akan pernah melepaskan kita bahkan saat kita merasa sudah kehilangan segalanya.
Berhentilah membangun dan bersandar pada benteng yang rapuh dan datanglah pada Kristus, Batu Karang yang membiarkan diri-Nya hancur disalib agar kita mendapatkan tempat perlindungan yang utuh. Hari ini, saat pikiran kita mulai bercabang karena cemas, lekatkanlah hati kita kembali pada kasih-Nya. Izinkan damai yang sempurna itu mengalir, karena selama kita berpijak pada Batu Karang ini, tidak ada yang mampu meruntuhkan-Nya. --DSK/www.renunganharian.net
Terkadang, di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil tangguh, batin kita sebenarnya rapuh karena bersandar pada hal-hal yang bisa hilang dalam sekejap-seperti tabungan, pengakuan orang lain, atau rencana masa depan yang mendadak buyar. Kita lelah karena berusaha membangun benteng bagi diri kita sendiri, padahal kita hanyalah manusia yang butuh tempat bernaung.
Dalam Yesaya 26, Allah tidak menawarkan tembok batu yang dingin, melainkan diri-Nya sendiri sebagai Perlindungan Abadi. Dalam ayat 3, Yesaya menggunakan pengulangan lembut "damai sejahtera" (Shalom-Shalom) bukan tanpa arti. Ini menyatakan pelukan damai yang berlapis-lapis bagi jiwa yang remuk. Inilah damai yang tidak menyisakan ruang bagi ketakutan. Demikian juga Yesaya menyebut nama TUHAN dengan menggunakan dua kata berulang, TUHAN ALLAH (Yah YAHWEH). Yesaya menolong kita mengenali Pribadi yang kesetiaan-Nya berlipat ganda, Pribadi yang tidak akan pernah melepaskan kita bahkan saat kita merasa sudah kehilangan segalanya.
Berhentilah membangun dan bersandar pada benteng yang rapuh dan datanglah pada Kristus, Batu Karang yang membiarkan diri-Nya hancur disalib agar kita mendapatkan tempat perlindungan yang utuh. Hari ini, saat pikiran kita mulai bercabang karena cemas, lekatkanlah hati kita kembali pada kasih-Nya. Izinkan damai yang sempurna itu mengalir, karena selama kita berpijak pada Batu Karang ini, tidak ada yang mampu meruntuhkan-Nya. --DSK/www.renunganharian.net
ALLAH BENTENGKU YANG TEGUH, PERISAI DAN PELINDUNGKU.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.