Renungan Harian
KEPAHITAN NAOMI
26 August 2026
Kisah Naomi terjadi pada zaman para hakim. Kala itu, situasinya tidak hanya sedang terjadi krisis rohani dan moral, melainkan juga krisis sosial dan ekonomi, termasuk kelaparan. Ya, kelaparan melanda Betlehem (rumah roti) yang notabene merupakan tanah janji.
Di tengah kondisi yang demikian, secara natural keputusan Elimelekh dan Naomi untuk meninggalkan tanah perjanjian menuju Moab mungkin bisa dianggap normal. Namun, dari sisi iman, Moab merupakan negeri asing yang dikenal penuh penyembahan berhala sekaligus merupakan musuh Israel (bdk. Ul. 23:3). Dengan demikian, keputusan ke Moab mungkin lahir dari kurangnya iman mereka. Hingga akhirnya, alih-alih beroleh pemulihan hidup, Naomi justru harus kehilangan suami dan kedua anaknya.
Namun demikian, Tuhan memakai kepahitan Naomi untuk memimpinnya kembali ke Betlehem dan mempertemukannya kembali dengan rancangan-Nya. Hal ini didukung oleh keterbukaan hati Naomi yang mau bersikap jujur dalam kesedihan dan kembali kepada Allah (bdk. ay. 20). Karena itu, kepahitan Naomi bukan sebuah kutuk, melainkan ujian dan sarana penebusan Allah. Dari penderitaan Naomi muncul garis keturunan Juru Selamat dunia.
Bila kelemahan iman melanda, baiklah Tuhan tetap menjadi pilihan. Akui keadaan kita di hadapan Tuhan dengan jujur, baik rasa kecewa, marah, bingung, ataupun gagal. Sambil tetap berdoa sekalipun terasa berat, tetap bersandar pada Firman, tetap bersekutu dan tetap memilih untuk taat kepada Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan senantiasa menuntun dan menolong! --EBL/www.renunganharian.net
Di tengah kondisi yang demikian, secara natural keputusan Elimelekh dan Naomi untuk meninggalkan tanah perjanjian menuju Moab mungkin bisa dianggap normal. Namun, dari sisi iman, Moab merupakan negeri asing yang dikenal penuh penyembahan berhala sekaligus merupakan musuh Israel (bdk. Ul. 23:3). Dengan demikian, keputusan ke Moab mungkin lahir dari kurangnya iman mereka. Hingga akhirnya, alih-alih beroleh pemulihan hidup, Naomi justru harus kehilangan suami dan kedua anaknya.
Namun demikian, Tuhan memakai kepahitan Naomi untuk memimpinnya kembali ke Betlehem dan mempertemukannya kembali dengan rancangan-Nya. Hal ini didukung oleh keterbukaan hati Naomi yang mau bersikap jujur dalam kesedihan dan kembali kepada Allah (bdk. ay. 20). Karena itu, kepahitan Naomi bukan sebuah kutuk, melainkan ujian dan sarana penebusan Allah. Dari penderitaan Naomi muncul garis keturunan Juru Selamat dunia.
Bila kelemahan iman melanda, baiklah Tuhan tetap menjadi pilihan. Akui keadaan kita di hadapan Tuhan dengan jujur, baik rasa kecewa, marah, bingung, ataupun gagal. Sambil tetap berdoa sekalipun terasa berat, tetap bersandar pada Firman, tetap bersekutu dan tetap memilih untuk taat kepada Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan senantiasa menuntun dan menolong! --EBL/www.renunganharian.net
KETIKA PILIHAN KITA SALAH, BELAS KASIH TUHAN TETAP BENAR DAN TIDAK BERUBAH.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.