BERIMAN DENGAN KESADARAN

Baca: KELUARAN 17:1-7


Bacaan tahunan: 2 Raja-raja 9-11

Bangsa Israel segera bersungut-sungut kepada Tuhan saat kehausan di Rafidim. Mereka juga menyalahkan Musa yang membawa mereka keluar dari Mesir. Sekalipun telah melihat banyak mukjizat dari Tuhan, mereka tetap meragukan penyertaan Tuhan ketika dihadapkan dengan situasi sulit. Mereka bahkan dengan berani mencobai Tuhan dengan mengatakan, "Apakah Tuhan ada di tengah-tengah kita atau tidak?" (ay. 7).

Sikap bangsa Israel menunjukkan dengan jelas bahwa iman mereka bukan saja belum matang, melainkan juga belum berakar. Mereka percaya kepada Tuhan saat dimudahkan, tetapi segera pudar saat kesulitan. Iman mereka cenderung bergantung pada situasi dan mudah goyah, sekalipun bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan sendiri.

Keselamatan di dalam Kristus adalah anugerah, kemurahan kasih karunia Allah. Namun, ada bagian yang harus dilakukan umat sebagai respons. Bagaimanapun, iman sejati hanya lahir dari kesadaran akan kebesaran kasih Allah. Ada kesediaan untuk mendengar dan memahami firman Tuhan. Kita tidak dapat mengaku beriman jika hanya sekadar mewarisi atau karena tradisi. Iman harus tumbuh karena firman Tuhan membuka hati dan pikiran sehingga kita mengenal kebenaran-Nya dan memilih untuk memercayai secara pribadi. Tentu saja hal ini tidak lepas dari pekerjaan Roh Kudus. Selanjutnya, harus ada kesadaran akan dosa dan kebutuhan akan keselamatan yang mendorong untuk bertobat serta menyerahkan hidup kepada Tuhan. Ada hati yang mau diubahkan, bukan sekadar terlibat dalam ritus keagamaan. --EBL/www.renunganharian.net


IMAN SEJATI BUKAN SEKADAR WARISAN, MELAINKAN PILIHAN SADAR YANG LAHIR DARI PENCARIAN, PEMAHAMAN, DAN KEYAKINAN YANG MENDALAM.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media