CIUMAN YUDAS

Baca: MATIUS 26:47-56


Bacaan tahunan: 1 Samuel 18-20

Dalam budaya bangsa Israel serta nenek moyang mereka, praktik ciuman memiliki beragam makna dan tidak selalu terkait dengan romansa. Ciuman adalah tanda sapaan yang umum untuk menunjukkan keramah-tamahan, juga dapat menyatakan kedekatan, persahabatan, dan kasih sayang, serta untuk menunjukkan penghormatan serta kesetiaan. Biasanya, mereka akan mencium pipi atau kening seseorang.

Namun, tindakan yang menjadi simbol kebaikan inilah yang dipilih Yudas Iskariot sebagai isyarat untuk menyerahkan Sang Guru kepada orang-orang yang hendak menangkap-Nya. Ia menggunakan tanda kesetiaan justru untuk mengkhianati-Nya. Ia bertopeng dan menipu demi tercapainya ambisi pribadi. Ia telah bersekongkol dengan para pemimpin Yahudi untuk menangkap Yesus. Ia telah menerima sejumlah uang sebagai upahnya. Lalu, ia berlagak seperti seorang murid yang sangat merindukan gurunya, menyapa-Nya dengan ramah, lalu mencium-Nya. Pengkhianatan ini bukan hanya mengantarkan Yesus kepada penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib, tetapi juga membuat Yudas binasa.

Tindakan Yudas menunjukkan bahwa terkadang orang-orang terdekatlah yang paling berbahaya bagi kita, jika mereka tidak memiliki ketulusan serta kasih yang murni. Ya, pengkhianatan orang yang kita percayai itulah yang paling menyakitkan. Kiranya kita belajar mengasihi dengan tulus, serta tidak gelap mata dengan tawaran menggiurkan yang dapat merusak integritas hidup kita. Mari singkirkan sifat manipulatif. Mari terus belajar menjadi orang-orang yang setia, yang menunjukkan rasa hormat yang tulus kepada orang lain, serta mencerminkan perilaku yang terpuji sebagai pengikut Kristus. --HT/www.renunganharian.net


PENGIKUT KRISTUS YANG SEJATI TIDAK HIDUP SECARA MANIPULATIF, MELAINKAN MENUNJUKKAN KASIH YANG TULUS DAN MURNI SECARA AKTIF.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media