Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: MAZMUR 39
Bacaan tahunan: 2 Raja-raja 1-3
Bangsa Israel Kuno memahami hidup manusia seperti sebuah perjalanan singkat. Hidup laksana embun pagi yang cepat lenyap; atau, bayangan yang sebentar saja tampak, lalu menghilang. Terkait dengan pemahaman tersebut, dengan jujur Daud menuliskan keluh kesahnya. Ia memakai ungkapan tentang "orang asing" dan "pendatang". Baginya, hidup ini bukan rumah abadi, melainkan persinggahan sejenak. Ia paham, hidup ini fana, rapuh, dan penuh kesementaraan.
Namun, Daud tidak berhenti pada keluh kesah. Ia datang kepada Allah dalam doa. Sehingga, ia beroleh pencerahan: kefanaan hidup justru mengingatkannya bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi tujuan akhir. Ia pun menjadi paham bahwa ia tidak bisa menggantungkan harapannya pada dunia yang sementara, melainkan hanya pada Allah yang kekal. Inilah titik balik rohani-dari rasa hampa menuju penyerahan diri pada kasih dan kedaulatan Tuhan.
Pengalaman iman Daud menolong kita untuk menyadari bahwa kefanaan hidup bukan alasan untuk berputus asa. Itu justru undangan untuk hidup lebih bijak dan bersandar pada Tuhan. Dunia menawarkan banyak hal yang memesona dan memikat hati: kesuksesan, harta, kesenangan, dan popularitas. Namun, hanya hal yang dikerjakan dalam Tuhan saja yang mampu bertahan.
Benar, hidup ini fana dan sementara. Justru karena itu, hendaknya kita menggunakan waktu dengan baik. Teruslah menaruh pengharapan hanya pada Allah. Lalu, berusahalah agar setiap langkah kita menjadi jejak yang bermakna. Bukan hanya bermakna bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi sesama. Dengan demikian, hidup kita yang fana ini, memiliki nilai kekekalan. --SAP/www.renunganharian.net
HIDUP TERLALU SINGKAT, DUNIA TERLALU LUAS, DAN KASIH TUHAN TERLALU BESAR UNTUK DIJALANI DENGAN CARA BIASA.-CHISTINE CAINE
Please sign-in/login using: