JANGAN MENGERASKAN HATI

Baca: Amsal 28:1-14


Bacaan tahunan: Keluaran 8-10

Lima anak muda mendaki gunung. Setelah hampir tiga jam, mereka sadar bahwa mereka salah jalan. Situasi rute yang mereka tempuh tidak sesuai dengan gambaran yang disebutkan dalam panduan. "Kita kembali", mereka bersepakat, dan segera turun ke base camp. "Beruntung kalian menyadari kekeliruan kalian", kata petugas di sana. "Rute tadi menuju area longsor yang belum stabil. Sangat berbahaya."

Boleh jadi, kita punya pengalaman serupa: Beberapa saat setelah suatu tindakan kita mulai, kita melihat tanda bahwa tindakan kita keliru atau akan keliru, dan kita segera "kembali ke base camp". Tetapi, orang bisa bersikap lain. Meski tahu bahwa langkahnya salah atau akan salah, orang tetap melanjutkan langkahnya yang salah. Orang tahu bahwa menyuap itu salah. Namun tetap saja, orang menyuap. Orang tahu ketidaksetiaan menghancurkan keluarga, terutama anak-anak. Namun tetap saja, orang mempermainkan kesetiaan.

Mengeraskan hati adalah dengan sadar mengabaikan semua tanda yang dilihat dan dimengerti, dan bersikukuh melanjutkan langkah meski tahu langkah itu salah. Amsal 28:14 mengingatkan, mengeraskan hati hanya akan menyeret kita kepada malapetaka. Menyadari bahwa sesuatu salah atau akan salah adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita, untuk menghindarkan kita dari hal-hal buruk. Mengeraskan hati terhadap kesadaran itu, dan bersikukuh untuk berjalan pada arah yang kita tahu kita salah, adalah mencelakakan diri, dan merendahkan kebaikan Tuhan. Saya kira, kita tidak menginginkan itu. --EE/www.renunganharian.net


MENYADARI BAHWA SESUATU SALAH ATAU AKAN SALAH ADALAH CARA TUHAN UNTUK MEMBERI PENCERAHAN, DAN MENJAUHKAN KITA DARI HAL-HAL BURUK.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media