Renungan Harian
MANUSIA CELAKA
27 August 2026
Suatu kali ketika kami melayani di lembaga pemasyarakatan, seorang warga binaan berkata, "Sebenarnya kami semua pasti tidak ingin berada di sini. Kami pun pastinya tidak ingin menjadi orang jahat. Namun, situasinya sudah begitu, ya di sinilah kami sekarang." Pernyataan itu menyiratkan ketidakberdayaan. Merasa tidak mampu melepaskan diri dari dosa, sekalipun mereka tahu bahwa apa yang mereka perbuat adalah kejahatan.
Namun, itu bukan hanya pergumulan orang-orang yang dipenjara setelah melakukan tindakan kriminal tertentu. Itu juga menjadi pergumulan semua orang, di mana pun ia berada. Inilah yang digambarkan Rasul Paulus sebagai pergumulan batin yang juga ia alami sendiri. Di satu sisi, ia ingin melakukan yang baik, yakni menjalankan perintah-perintah Allah. Namun, di sisi lain, ada dorongan kuat yang terus-menerus berjuang di dalam tubuhnya untuk berbuat dosa. Kita tahu yang baik, tetapi justru yang jahatlah yang kita perbuat. Dalam keputusasaan yang demikian, Rasul Paulus bahkan menyebut dirinya sebagai manusia celaka, yakni seseorang yang malang, menyedihkan, serta sengsara karena tidak mampu melepaskan diri dari dosa.
Ya, tak seorang pun berkuasa melepaskan diri dari cengkeraman dosa. Hanya Allah yang sanggup mengerjakannya untuk kita. Dan dalam kemurahan-Nya, Dia telah melakukannya melalui karya dan pengurbanan Yesus Kristus. Dia menjadi manusia sama seperti kita, melalui segala kesulitan dan cobaan hidup, tetapi tidak berdosa (Ibr. 4:15). Hanya di dalam Dialah kita dapat mengalami kemenangan atas dosa, serta menjalani hidup yang berkenan kepada Allah. --HT/www.renunganharian.net
Namun, itu bukan hanya pergumulan orang-orang yang dipenjara setelah melakukan tindakan kriminal tertentu. Itu juga menjadi pergumulan semua orang, di mana pun ia berada. Inilah yang digambarkan Rasul Paulus sebagai pergumulan batin yang juga ia alami sendiri. Di satu sisi, ia ingin melakukan yang baik, yakni menjalankan perintah-perintah Allah. Namun, di sisi lain, ada dorongan kuat yang terus-menerus berjuang di dalam tubuhnya untuk berbuat dosa. Kita tahu yang baik, tetapi justru yang jahatlah yang kita perbuat. Dalam keputusasaan yang demikian, Rasul Paulus bahkan menyebut dirinya sebagai manusia celaka, yakni seseorang yang malang, menyedihkan, serta sengsara karena tidak mampu melepaskan diri dari dosa.
Ya, tak seorang pun berkuasa melepaskan diri dari cengkeraman dosa. Hanya Allah yang sanggup mengerjakannya untuk kita. Dan dalam kemurahan-Nya, Dia telah melakukannya melalui karya dan pengurbanan Yesus Kristus. Dia menjadi manusia sama seperti kita, melalui segala kesulitan dan cobaan hidup, tetapi tidak berdosa (Ibr. 4:15). Hanya di dalam Dialah kita dapat mengalami kemenangan atas dosa, serta menjalani hidup yang berkenan kepada Allah. --HT/www.renunganharian.net
HANYA KRISTUS YANG BERKUASA MENGUBAH KITA DARI MANUSIA CELAKA MENJADI ORANG-ORANG YANG BERKENAN KEPADA ALLAH.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.