DENGAN SEGENAP AKAL BUDI

Baca: Matius 22:34-40


Bacaan tahunan: 2 Samuel 19-20

"Maaf, Pak. Apakah sikap rasional tidak bertentangan dengan iman?", tanya seorang siswa kelas III IPA pagi itu.

"Ke mana kamu setelah SMA, 'Nak?"

"Teknik Sipil, Pak", jawabnya sopan.

"Bagus! Bayangkan, kamu sudah menjadi insinyur terkenal. Gereja memintamu membangun gedung serbaguna tiga lantai yang besar. Sebagai orang beriman, perlukah kamu menghitung berat bangunan, beban yang dipikul oleh tiap pilar dan fondasi, dengan penuh perhitungan merancang konstruksi yang sesuai, merancang...."

"Saya mengerti, Pak. Saya mengerti", sahutnya antusias sebelum habis pertanyaan saya.

Dalam hidup beriman, kita juga perlu bersikap rasional. Ketika bertitah "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu", Tuhan tidak berkata "dan buanglah akal budimu". Tetapi, Dia bersabda, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu" (ay. 37). Anda lihat? Dengan segenap akal budi!

Bersikap rasional adalah secara jernih mendayagunakan akal budi anugerah Tuhan untuk mencermati, menimbang, memutuskan, dan bertindak. Sikap itu diperlukan untuk hampir semua urusan. Belajar, bekerja, mendidik anak, bermasyarakat, dll.-bahkan, memilih tindakan untuk mewujudkan kasih kepada Tuhan pun-memerlukan sikap rasional, dengan segenap akal budi. Demikianlah. Dalam hidup beriman, kita juga perlu bersikap rasional. --EE/www.renunganharian.net


MEMILIH DAN MEREALISASIKAN TINDAKAN-TINDAKAN SEBAGAI WUJUD KASIH KEPADA TUHAN PUN MEMERLUKAN SIKAP RASIONAL.


Navigation

Change Language

Social Media