BATAS

Baca: 2 TAWARIKH 26


Bacaan tahunan: Ester 6-10

Mengetahui batas sesuatu amatlah penting. Baik itu secara harfiah maupun secara kiasan. Ini bisa meliputi pemahaman terhadap batas kemampuan kita dalam melakukan sesuatu, baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak, juga dalam mempergunakan wewenang atau otoritas kita. Sebab jika kita melampaui batas, pasti akan menimbulkan permasalahan, serta menjadikan diri kita berada dalam bahaya.

Raja Uzia memulai pemerintahannya dengan menaati Tuhan. Pertolongan-Nya yang ajaib (ay. 15) menjadikannya raja yang hebat dengan pasukan dan perlengkapan militer yang sangat kuat. Ia bukan hanya dihormati di dalam negeri, melainkan juga masyhur hingga ke negeri-negeri lain, serta berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Namun sayang, setelah semua pencapaian itu, ia merasa diri begitu hebat. Ia mulai melampaui batasnya. Ia mengira dirinya begitu berkuasa, lalu menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Tugas para imam yang menjadi wewenang suku Lewi pun ia serobot, padahal ia berasal dari suku Yehuda, keturunan Raja Daud. Akibatnya, ia kena tulah, ditimpa penyakit kulit yang menajiskan sehingga ia harus tinggal di rumah isolasi hingga hari kematiannya.

Dalam relasi kita dengan sesama, terdapat batas-batas yang harus kita jaga agar hidup tetap damai dan harmonis. Ada hak, serta ada kewajiban setiap orang. Tidak boleh hanya memperhatikan kepentingan sendiri. Demikian juga dalam relasi kita dengan Tuhan. Kita harus selalu menempatkan diri sebagai makhluk yang serba terbatas di hadapan Sang Pencipta Yang Maha Segalanya. Ya, segala tindakan kita sepatutnya berada dalam batas yang menunjukkan rasa hormat dan ketaatan kita kepada-Nya. --HT/www.renunganharian.net


SENANTIASA MENYADARI SIAPA DIRI KITA DI HADAPAN ALLAH MEMBUAT KITA BERADA DALAM BATAS YANG BENAR PADA SETIAP LANGKAH.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media