BUKAN MANUSIA BUNGLON

Baca: Roma 12:1-8


Bacaan tahunan: Ulangan 28

Bunglon adalah binatang melata yang menarik. Warna kulitnya dapat berubah-ubah sesuai warna tempat yang dihinggapinya. Tujuannya adalah untuk menyamarkan dirinya, agar dapat memangsa binatang lain ataupun untuk melindungi diri dari bahaya. Namun bila ada orang yang dijuluki sebagai manusia bunglon, maka sebutan itu sama sekali tidaklah membanggakan. Yang mendapat julukan semacam itu biasanya adalah orang yang tidak memiliki prinsip dan selalu menyetujui lingkungannya demi kepentingan pribadinya. Mungkin hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dirinya. Bagaimanapun, manusia bunglon sulit mendapat penghargaan dari orang lain.

Tuhan pun menghendaki agar kita tidak menjadi manusia bunglon. Meskipun masih hidup di dunia yang fana ini, kita tidak dapat hidup menurut cara orang dunia. Kita harus meninggalkan kebiasaan menipu orang lain. Tidak lagi mencuri, tidak mengeluarkan kata-kata kotor, juga, tidak bertikai dengan orang lain dan memfitnah (Ef. 4:25, 28, 31). Sebaliknya, kita diminta untuk berubah, menyesuaikan diri dengan pribadi kita yang telah diubah Tuhan.

Hidup kudus memang mengundang risiko dimusuhi teman yang masih mengikuti cara-cara dunia. Namun risiko itu terasa ringan bila dibanding keuntungannya. Jika kita menaati Tuhan, kita pun menjadi semakin peka terhadap kehendak Tuhan. Selain itu, kita juga memperkenan hati Tuhan. Tuhan pun niscaya menerima ibadah dan persembahan kita (ay. 1). --HEM/www.renunganharian.net


TINGGALKAN POLA LAMA, PEROLEH POLA BARU YANG SESUAI DENGAN PRIBADI BARU KITA.


Navigation

Change Language

Social Media