EPHESIA GRAMMATA

Baca: Kisah Para Rasul 19:13-20


Bacaan tahunan: Yehezkiel 22-24

Yang namanya jimat tak pernah surut dimakan zaman. Bentuknya beragam. Kantung abu. Bebatuan. Cincin. Kalung. Gulungan kertas berisi mantra. Dan sebagainya. Mengapa jimat tak pudar dimakan zaman? Sebab jimat ialah ekspresi dari sebuah penyimpangan atas penghayatan iman yang benar. Begitu penghayatan iman rusak dan dangkal, Tuhan tidak lagi disembah melainkan diperalat.

Efesus, kota yang gandrung pada sihir atau hal-hal yang magis. Di situ penghayatan iman akan Allah gampang menyimpang, sehingga seorang imam kepala Yahudi pun tak kuasa menahan pengaruhnya. Sesudah menyaksikan pelayanan Paulus, ketujuh anaknya serentak memperlakukan nama Yesus selaku mantra sihir untuk mengusir roh jahat. Tentu saja mereka gagal (ay. 13-16). Ternyata di kota itu banyak yang memiliki kalung berupa gulungan naskah kecil berisi tulisan mantra demi memenuhi ambisi diri. Jimat berbentuk "kitab mungil"-yang disebut ephesia grammata-itulah yang dibakar setelah nantinya mereka beriman secara benar kepada Tuhan Yesus (ay. 19-20).

Dibalik kehadiran jimat selalu ada penghayatan iman yang dangkal. Orang hanya memanfaatkan segala hal yang disangka berhubungan dengan Tuhan untuk memenuhi keinginannya, tanpa mengenal Tuhan. Tak luput hal-hal yang ada dalam perbendaharaan kekristenan pun diperlakukan sebagai jimat. Tiada cara lain untuk menangkisnya selain bertobat dan belajar untuk mengenal Tuhan secara benar melalui firman-Nya. --PAD/www.renunganharian.net


PENGHAYATAN IMAN YANG DANGKAL MENJADI TANAH YANG SUBUR BAGI TINDAKAN-TINDAKAN YANG BERSIFAT MAGIS.


Navigation

Change Language

Social Media