HARI ISTIMEWA

Baca: Pengkhotbah 5:17-19


Bacaan tahunan: Kejadian 19-21

Istri pria itu baru saja meninggal. Ketika membereskan barang-barang istrinya, ia menemukan syal sutera yang mereka beli saat bertamasya di New York. Secarik syal yang cantik, anggun, dan mahal. Label harganya masih menempel. Istrinya terlalu menyayangi syal itu sehingga malah tidak sempat memakainya karena menunggu kesempatan istimewa. Padahal, pria itu pernah berkata, "Sudahlah. Jangan menunggu hari istimewa baru memakai barang yang bagus. Setiap hari dalam kehidupanmu itu istimewa."

Menurut Pengkhotbah, alangkah baiknya jika orang makan-minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih-payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya. Allah juga mengaruniakan kepada manusia kekayaan dan harta benda serta kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya (ay. 17-18).

Setiap hari adalah hari yang istimewa. Setiap jam dan menit sangat berharga. Kita seharusnya menikmati pengalaman hidup setiap hari dengan gembira. Bukan berarti kita hidup berfoya-foya dan sembrono. Kita menikmati hubungan, pelayanan, waktu, kegiatan, kekayaan, dan harta secara bijaksana, penuh syukur, dan sukacita. Kita juga menikmati hidup sebagai kesempatan untuk mencari, mengenal, dan mengalami Tuhan. Jangan menundanya atau menunggu-nunggu hari yang istimewa. Hari semacam itu tidak akan pernah datang. Kalau ada hal yang menyenangkan, marilah kita menikmatinya dengan penuh rasa syukur. --IN/www.renunganharian.net


AKU AKAN MENIKMATI KEINDAHAN BERKAT KEHIDUPAN HARI INI DAN TIDAK BERDALIH "MENUNGGU KESEMPATAN" YANG TEPAT.


Navigation

Change Language

Social Media