MAHKAMAH AGAMA

Baca: Yohanes 11:46-57


Bacaan tahunan: 2 Samuel 17-18

Munculnya Yesus ke publik membuat masyarakat gegap gempita mengidolakan-Nya sebagai pemimpin muda berkharisma, nabi, titisan Elia, Yohanes Pembaptis (Luk. 9:19), atau raja yang akan memulihkan kejayaan Israel. Dia melabrak dan menggoyahkan sistem keagamaan dan politik yang mapan, menelanjangi praktek keagamaan yang korup dan manipulatif (Mat. 23:1-33). Namun Dia dekat dengan rakyat kecil, mengampuni pendosa, pelacur, pemungut cukai. Dia memberi makan yang lapar, membuat yang lumpuh berjalan, yang buta melihat. Dia memanggil orang yang dianggap kasar dan kurang terpelajar menjadi murid-Nya.

Normal jika pemuka masyarakat dan agama menjadi resah. Mereka takut kehilangan segalanya. Imam besar Kayafas yang memimpin Mahkamah Agama bersidang dan memutuskan: "bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa" (Yoh. 11:50). Karena kewenangan hukuman mati ada pada Pilatus, mereka membawa Yesus kepadanya. Bukan untuk diadili demi tegaknya kebenaran, tetapi agar Pilatus melegalkan hukuman mati bagi Yesus. Itulah Jumat Agung pertama dalam sejarah kelam manusia.

Pedih rasanya, tragedi kemanusiaan selalu saja terulang. Namun syukur pada Allah, yang membalikkan sejarah kelam manusia. Yesus yang direndahkan dengan mati di Golgota, bangkit dan menang. Dia ditinggikan dan dikaruniakan nama di atas segala nama, agar semua lutut bertelut, semua lidah mengaku bahwa Dialah raja di atas segala raja (Fil. 2:6-11). Berhati-hatilah, sebab nasib kekal kita ditentukan oleh respons kita kepada-Nya. --SST/Renungan Harian


JUMAT AGUNG MENCATAT KELAMNYA SEJARAH MANUSIA. MINGGU PASKAH PERTAMA MENCATAT SIRNANYA KABUT KELAM ITU.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media