MENEROBOS KEBEKUAN

Baca: Kisah Para Rasul 3:1-10


Bacaan tahunan: 1 Tawarikh 11-13

Sesuatu yang sering kita lihat, dengar, alami akan membuat kita terbiasa. Bahkan bisa jadi tumpul. Misalnya, orang yang belum pernah diucapi kata mesra "Aku cinta padamu" pasti akan merona merah pipinya ketika mendengarnya untuk pertama kali. Jantung deg-degan, malam terasa panjang, mata sulit terpejam. Lain halnya dengan orang yang sudah biasa jatuh bangun dalam cinta. Efeknya pasti ada, namun tak sedahsyat yang pertama.

Demikian pula halnya dengan rasa kasihan. Semakin sering kita berjumpa dengan orang yang menghadirkan rasa iba, semakin biasalah hati kita. Banyak orang sudah biasa melihat orang lumpuh itu duduk tak berdaya, di pintu Gerbang Indah (ay. 2). Si lumpuh sendiri juga sudah amat terbiasa dengan keadaan dirinya. Para penggotongnya apalagi! Kini datanglah Petrus dan Yohanes membawa sesuatu yang baru. Mereka tidak memberi uang seperti kebanyakan orang. Mereka memberi sesuatu yang tidak biasa bagi si lumpuh. Kata mereka, "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu". Dan mujizat terjadi. Terjadinya mujizat diawali dengan kemampuan Petrus dan Yohanes lepas dari penjara kebiasaan yang menumpulkan hati nurani. Petrus dan Yohanes melihat si lumpuh dengan mata baru dan memberikan sesuatu yang baru.

Kita belajar bahwa ketumpulan belas kasihan bukan akhir cerita dan bahwa diperlukan selalu semangat mendobrak kebekuan hati dan ketawaran rasa melihat derita orang. Dengan apa yang ada dalam iman kepada Kristus kita dapat menghadirkan "kebaruan" pada orang-orang yang biasa dalam penderitaan. Cobalah! --DKL/Renungan Harian


BANYAKKAN KASIHKU AKAN ORANG-ORANG YANG SUSAH, YA ALLAH.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media