MOTIVATOR ATAU PROVOKATOR?

Baca: Kisah Para Rasul 17:10-15


Bacaan tahunan: Kisah Para Rasul 1-3

Ada orang yang bertalenta sebagai orator ulung. Sebagian menjadi motivator; sebagian lagi menjadi provokator. Motivator menggerakkan dan menginspirasi pendengarnya untuk melakukan hal-hal yang positif. Provokator, sebaliknya, menghasut pendengarnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak. Karena itu, saat berlangsung demonstrasi, polisi tidak jarang menangkap dan mengamankan orang yang diduga sebagai provokator kericuhan.

Saat Paulus memberitakan Injil di Ikonium, Listra, Filipi, Tesalonika, dan Berea, ada kelompok yang menentang pelayanannya sehingga terjadi keributan. Orang Yahudi, yang tidak suka mereka memberitakan Injil, menghasut orang untuk menentang mereka dan melakukan tindakan anarkis. Di Listra, Paulus dilempari batu sampai dikira mati. Di Filipi, Paulus dan Silas berkali-kali didera lalu dimasukkan ke penjara. Saat berada di Berea, semula pelayanan Paulus berjalan lancar. Banyak orang Yahudi yang menjadi percaya. Namun, saat orang Yahudi dari Tesalonika datang dan menghasut mereka, orang menjadi gelisah.

Bagaimana dengan kita? Kalau kita pandai berbicara dan meyakinkan orang lain, kemampuan itu kita pakai untuk memotivasi orang melakukan kebaikan atau memengaruhi mereka melakukan kejahatan? Kolose 4:6 berkata, "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." Marilah kita giat memperkatakan hal-hal yang membangun iman. --RTG/www.renunganharian.net


PERKATAAN MEMILIKI DAYA PENGARUH YANG KUAT. KIRANYA KITA MENGGUNAKANNYA UNTUK MEMPERKUAT IMAN SESAMA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media