PONTIUS PILATUS

Baca: Matius 27:11-26


Bacaan tahunan: 2 Samuel 10-12

"Aku percaya kepada Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan". Inilah sepenggal catatan sejarah, yang menjadi pengakuan iman orang Kristiani sepanjang abad. Ya, kredo ini selalu terulang dalam sejarah. Penguasa yang seharusnya menegakkan kebenaran, menyerah tak berdaya. Mari bayangkan posisi Pilatus sebagai penguasa tertinggi di Palestina, waktu Yesus dituduh menista agama dan melecehkan penguasa. Pilatus sadar Yesus tak bersalah (Luk. 23:22), tetapi ia tak berdaya pada tekanan massa yang sudah terprovokasi dan menuntut Yesus disalib. Pilatus hanya bisa mencuci tangan, tak mau terlibat mengambil keputusan yang salah. Ia menyerahkan Yesus pada pengadilan massa yang beringas dan bermata gelap, dengan nafsu tak terbendung untuk membunuh Mesias.

Membela yang benar, mengambil keputusan yang melawan arus dengan risiko kehilangan jabatan, kenikmatan, kehormatan, serta ikut tersalibkan, siapa yang tahan? Mencuci tangan, atau ikut berteriak "salibkan Dia", atau berdiam diri dan menjauh dari kebenaran, adalah tindakan lazim para pengecut yang mengikut arus demi menyelamatkan diri sendiri. Oh, itulah "aku", manusia celaka ini, siapa yang bisa menyelamatkanku dari kekejian ini? Syukur kepada Allah, sebab Yesus telah menjadi "korban" dosaku dan dosamu. Kini aku sudah diselamatkan dari kutuk maut, bukan karena jasaku, tapi karena rahmat-Mu melalui Kristus (Rm. 7:23-25, 8:1-2). Terima kasih Tuhan, kini terimalah hidupku yang kuabdikan bagi-Mu. --SST/Renungan Harian


DENGAN APA AKAN KUBALAS CINTA-MU, YA TUHAN. INILAH HAMBA, PAKAILAH UNTUK MENYATAKAN CINTA-MU PADA DUNIA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media