TANPA SALIB

Baca: Matius 17:1-9


Bacaan tahunan: 1 Tawarikh 14-16

Manusia selalu cenderung untuk meniru, membajak, merekayasa, memanipulasi, bahkan memalsukan sesuatu. Tiruan dan tipuan menghiasi kiprahnya di segala bidang. Tak luput di bidang kerohanian. Aktivitas kerohanian sarat pemalsuan yang mengatasnamakan Tuhan. Yang dipuja nafsu ambisi gengsi tapi dibungkus rapi dengan kemasan "rohani". Devosi (ibadah/ penyembahan) telah berubah menjadi ilusi. Tuhan berada di antara kurungan tanda petik.

Di gunung itu ketiga murid diijinkan "mencicipi" untuk melihat kemuliaan Yesus. Tetapi mengapa mereka diharuskan menunda untuk menceritakan kenyataan mulia itu sampai saat kebangkitan-Nya? Begini. Kemuliaan Yesus berpijak di atas karya puncak-Nya, yaitu kematian yang segera diikuti oleh kebangkitan- Nya. Penyaliban di Golgota itulah yang mendasari keTuhanan- Nya. Tanpa salib, manusia hanya menyembah ilusinya sendiri dan menjadi "seteru salib Kristus" (Flp. 3:18-19). Satu-satunya Kristus yang benar ialah Dia yang mati tersalib. Jadi, pesan Yesus, jangan pernah mewartakan Diri-Nya selain dari Dia yang disalibkan (bdk. 1Kor. 1:22-23).

Ibadah menjadi pameran kepiawaian. Pelayanan menjadi penonjolan diri. Mimbar menjadi papan iklan. Persembahan menjadi investasi. Manusia menjadi "barang" yang dimanipulasi. Doa menjadi ilusi. Tanpa salib Kristus begitulah jadinya kiprah kristiani kita. Sebab kerendahan hati, penyangkalan diri, dan dedikasi melayang lenyap. Adalah tugas kita untuk tetap berpegang pada salib-Nya, bukan? --PAD/Renungan Harian


KETIKA KRISTUS DIBERITAKAN TANPA SALIB KEKRISTENAN TERANCAM KESEJATIANNYA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media