CUACA BERUBAH

Baca: 1 Samuel 20:30-35


Bacaan tahunan: 1 Korintus 10-13

Ketika menengok ramalan cuaca dini hari, saya mendapati suhu yang lumayan dingin dan agak mendung, walau kami sedang berada pada bulan musim panas di kota Los Angeles. Namun ternyata ramalan itu meleset. Begitu matahari terbit, perubahan cuaca drastis sekali. Akibatnya, baju yang saya kenakan kurang sesuai. Salah kostum namanya. Begitulah cuaca. Apabila berubah, terkecohlah kita sehingga membuat keputusan yang keliru pula.

Dalam diri manusia ada sesuatu yang mirip cuaca. Yaitu suasana hati. Apabila berubah bisa amat drastis, seperti berputar 180 derajat. Jiwa Raja Saul hampa dan galau. Suasana hatinya terus berubah. Ia sudah pernah bersumpah tak akan membunuh Daud (1Sam. 19:6). Tetapi itu tak bertahan lama. Sesudahnya, berulang kali ia mencoba berbagai upaya untuk membunuh Daud. Di hadapan Yonatan, sahabat Daud, Saul memperlihatkan inkonsistensi keputusan yang membuat geram putra sulungnya itu (ay. 34).

Harus diakui suasana hati kita mudah berubah akibat pengaruh beragam faktor. Rasa amat lapar. Kurang tidur. Baru bangun tidur. Hormon. Rasa takut. Rasa bersalah. Kebencian. Kekosongan spiritual. Semuanya harus diwaspadai. Karenanya, sedapat mungkin kita hindari pengambilan keputusan atas dasar suasana hati. Sebab itu pasti akan sulit dipertahankan, menyusahkan orang lain dan tidak memuliakan Tuhan. --PAD/www.renunganharian.net


KEPUTUSAN YANG DEWASA DIBUAT BERDASARKAN KEYAKINAN, BUKAN SUASANA HATI.


Navigation

Change Language

Social Media