PERKATAAN YANG BERKUALITAS

Baca: Yesaya 50:4-11


Bacaan tahunan: 1 Korintus 5-9

Di mana dua atau tiga orang berkumpul, disitulah gosip berada. Pepatah ini menggambarkan betapa dekatnya kehidupan kita dengan perbincangan yang sia-sia bahkan berpotensi dosa. Tidak hanya para wanita, pria pun banyak yang melakukannya. Apalagi saat ini memberi komentar akan suatu hal yang tengah menjadi hot issue bukan perkara yang sulit. Dengan gawai dan internet dimanapun orang dapat terhubung satu dengan yang lain.

Tak hanya lupa waktu, kehilangan kepedulian pada orang di sekitar atau menjadi malas gerak (mager), media sosial juga menjadikan orang cepat berkomentar namun lambat dalam berpikir. Akibatnya, perkataan (atau lebih tepatnya tulisan) yang dihasilkan pun cenderung bersifat negatif provokatif alih-alih membangun. Lambat laun perkataan buruk itu menjadi semacam candu yang memberi kepuasan tersendiri setelah melakukannya.

Orang percaya bukan tidak boleh mengikuti pola kemajuan zaman. Hanya, jangan lupakan hakikat diri sebagai hamba Tuhan yang taat! Perkataan dan tingkah laku murid Tuhan merupakan kesaksian yang hidup. Yesus memberi teladan dengan mendengar pengajaran Allah laksana seorang murid. Demikian pula kita! Pengajaran Allah harus menjadi dasar bagi kita dalam berkata-kata, sehingga setiap kata yang keluar dari diri kita adalah kebenaran, yang menghibur dan membangun semangat bagi yang letih lesu. Karena itu sebelum berkata-kata mari kita biasakan untuk mengawali hari dengan mendengarkan pengajaran Sang Guru! --EBL/www.renunganharian.net


LIDAH SEORANG MURID MEMPERKATAAN PERKATAAN YANG SESUAI DENGAN AJARAN SANG GURU.


Navigation

Change Language

Social Media