GEMBALA DOMBA ALLAH

Baca: Kejadian 47:1-12


Bacaan tahunan: 1 Korintus 14-16

Saat terjadi kelaparan, Yusuf yang sudah menjadi penguasa membawa seluruh keluarganya tinggal di tanah Mesir. Yusuf berpesan sekiranya Firaun menanyakan mengenai pekerjaan, haruslah mereka menjawab bahwa mereka adalah pemelihara ternak (Kej. 46:33-34). Faktanya, segala gembala kambing domba adalah kekejian bagi orang Mesir! Dan ketika Firaun benar-benar bertanya: "Apakah pekerjaanmu?" dengan terus terang mereka menjawab: "Hamba-hambamu ini gembala domba, baik kami maupun nenek moyang kami" (ay. 3).

Jawaban kelima saudara Yusuf memuat risiko besar. Jika Firaun tidak berkenan, bisa-bisa mereka diusir keluar. Namun hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk mengakui jati diri mereka sebenarnya. Jati diri kita juga adalah seorang gembala. Apa pun profesi kita, Tuhan meminta kita agar menggembalakan jiwa-jiwa. "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri" (1Ptr. 5:2). Dunia penuh penyesatan dan banyak domba tersesat. Sebagai gembala, kita diharapkan mampu menunjukkan jalan kebenaran kepada orang-orang di sekitar kita dan menuntun kehidupan mereka untuk lebih dekat pada Tuhan.

Dunia tidak menyukai keberadaan para gembala domba-domba Allah. Dunia akan menghina, mencerca bahkan mengucilkan mereka. Seperti kelima dari saudara Yusuf, apakah kita berani mengakui jati diri kita sebenarnya di hadapan dunia? Lebih dari itu apakah kita mau sungguh-sungguh menjalankan peran kita sebagai gembala yang baik? --LIN/www.renunganharian.net


GEMBALA DOMBA ALLAH YANG SEJATI BERANI MENGAKUI JATI DIRINYA DI HADAPAN DUNIA DAN BERSEDIA MENJALANKAN PERANNYA.


Navigation

Change Language

Social Media