KAYA DALAM KEMURAHAN

Baca: ULANGAN 15:1-11


Bacaan tahunan: Amos 1-5

Perjalanan hidup itu tidak semakin mudah, tapi semakin sulit! Pernyataan seperti itulah yang kerap kita dengar dari orang-orang saat menilai berbagai keadaan yang terjadi sekarang ini. Diakui atau tidak, memang demikianlah keadaannya. Dan situasi ini sedikit banyak memengaruhi sikap orang-orang untuk menjadi egois dan tidak lagi peduli terhadap kesusahan yang dialami sesamanya. Bagaimana dengan sikap kita saat melihat orang-orang di sekitar kita hidup dalam penderitaannya?

Tentang orang-orang yang ditimpa kemalangan, Tuhan memberikan sebuah aturan yang harus dilakukan orang-orang Israel. Aturan itu adalah jika ada orang Israel yang hidup dalam kekurangan dan berutang kepada saudara sebangsanya, maka pada tahun yang ke tujuh, orang itu harus dibebaskan dari utangnya. Tuhan pun melarang mereka untuk bersungut-sungut jika tahun yang ke tujuh itu hampir tiba karena Tuhan telah memberkati mereka. Dan jika ada orang yang meminta tolong, maka mereka tidak boleh menutup pintu hatinya dengan menggenggam tangannya sehingga tidak menolongnya. Jika mereka mengikuti perintah Tuhan ini, Tuhan berjanji akan memberkati hidup mereka (ay. 10).

Perintah Tuhan ini mengingatkan kita bahwa hidup kaya dalam bermurah hati adalah kehendak-Nya bagi hidup kita. Ia mengajar kita untuk meringankan beban seseorang dalam penderitaannya. Di tengah kehidupan yang semakin sulit ini, kiranya Ia masih menemukan orang-orang yang kaya dalam kemurahan hati untuk menjadi saluran berkat-Nya bagi sesama. --SYS/www.renunganharian.net


SEMAKIN SULITNYA SITUASI KIRANYA TIDAK MENYURUTKAN BELAS KASIHAN DAN KEMURAHAN HATI KITA UNTUK TETAP MERINGANKAN BEBAN ORANG LAIN.


Navigation

Change Language

Social Media