Renungan Harian
SANG PENYEMBUH JIWA
02 November 2026
Keterasingan rohani-yakni ketakmampuan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup-adalah persoalan jiwani yang serius. Kita masih beribadah, berdoa menyebut nama-Nya yang dulu menggetarkan hati, tetapi semua kini terasa hampa. Doa menjadi gema tanpa arah, ibadah menjadi kebiasaan tanpa api cinta.
Dari luar, semua tampak baik-baik saja: karier lancar, keluarga rukun, tawa ria masih terdengar. Namun, di dalam, ada ruang sunyi yang kosong. Kita tersenyum, tetapi hati letih. Kita berbicara, tetapi tak merasa didengar. Kita hidup, tetapi kehilangan makna. Begitulah keterasingan rohani: tak kasat mata, tetapi menggerogoti jiwa. Ia tumbuh perlahan dari luka batin yang tak diakui, dari kesibukan yang merampas saat untuk hening, dari ketaatan yang kehilangan kasih. Hati kita menjadi bagai tanah retak-pernah basah oleh hujan rahmat, kini kering oleh kebiasaan.
Namun, ketika jiwa kita yang kering membutuhkan air hidup, Tuhan bersabda, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (ay. 28). Tuhan tahu letih lesu kita, melihat kerontang hati kita, dan Dia memanggil kita. Begitu lembut, penuh kasih, tanpa syarat. Dia Sang Penebus Sejati, tetapi juga Sang Penyembuh luka jiwa.
Sebenarnyalah, Sang Penyembuh Jiwa tak pernah jauh. Tuhan hadir di sisi kita; tiap saat, sepanjang waktu. Hati kitalah yang terlalu riuh untuk mendengar-Nya. Maka, mari kita diam sejenak agar dalam hening, kita mendengar suara-Nya yang lembut, "Datanglah kepada-Ku." --EE/www.renunganharian.net
Dari luar, semua tampak baik-baik saja: karier lancar, keluarga rukun, tawa ria masih terdengar. Namun, di dalam, ada ruang sunyi yang kosong. Kita tersenyum, tetapi hati letih. Kita berbicara, tetapi tak merasa didengar. Kita hidup, tetapi kehilangan makna. Begitulah keterasingan rohani: tak kasat mata, tetapi menggerogoti jiwa. Ia tumbuh perlahan dari luka batin yang tak diakui, dari kesibukan yang merampas saat untuk hening, dari ketaatan yang kehilangan kasih. Hati kita menjadi bagai tanah retak-pernah basah oleh hujan rahmat, kini kering oleh kebiasaan.
Namun, ketika jiwa kita yang kering membutuhkan air hidup, Tuhan bersabda, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (ay. 28). Tuhan tahu letih lesu kita, melihat kerontang hati kita, dan Dia memanggil kita. Begitu lembut, penuh kasih, tanpa syarat. Dia Sang Penebus Sejati, tetapi juga Sang Penyembuh luka jiwa.
Sebenarnyalah, Sang Penyembuh Jiwa tak pernah jauh. Tuhan hadir di sisi kita; tiap saat, sepanjang waktu. Hati kitalah yang terlalu riuh untuk mendengar-Nya. Maka, mari kita diam sejenak agar dalam hening, kita mendengar suara-Nya yang lembut, "Datanglah kepada-Ku." --EE/www.renunganharian.net
KEPADA-MU, YANG MEMANGGIL YANG LETIH DAN BERBEBAN BERAT, AKU DATANG. DI HENINGKU, TUHAN, AKU INGIN SEMBUH.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.