MEMIHAK

Baca: Yohanes 19:1-15


Bacaan tahunan: 1 Samuel 28-31

Acap kali ketika diharuskan berpihak, kita sebenarnya sudah jelas mengetahui kepada pihak manakah seharusnya kita lakukan pembelaan. Kita sadar siapakah yang benar dan tulus dan pihak mana yang bertindak sebaliknya. Namun ada banyak pertimbangan yang memaksa kita tidak memilih pihak yang benar. Masalahnya, ketika salah memihak, kita mungkin sudah melakukan penindasan terhadap mereka yang benar.

Dilema besar dihadapi Pilatus. Ia mendapat tekanan massa untuk menyalibkan Yesus. Padahal Pilatus tahu bahwa Yesuslah yang benar. Namun ia takut kehilangan jabatan karena ancaman orang banyak. Karena itu, Pilatus berusaha keras melepaskan dirinya dari tanggung jawab. Awalnya, Pilatus menyerahkan kembali perkara Yesus kepada orang Yahudi. Orang Yahudi yang ingin tampak bersih menjelang Paskah menyerahkan kembali keputusan kepada Pilatus. Pilatus pun menganiaya Yesus demi menyenangkan orang banyak, lalu mencuci tangannya karena takut ditimpa hukuman. Namun Yesus menyatakan bahwa keputusan Pilatus itu adalah dosa.

Motivasi tindakan kita tidak satu pun tersembunyi di hadapan Tuhan. Ujian atas ketulusan terjadi saat kita dibenturkan pada dua pilihan sulit, yaitu apakah kita berpihak pada kebenaran ataukah menentang kebenaran demi menyenangkan hati orang. Apakah kita bersedia mengambil risiko menderita bersama orang benar? Ataukah justru bertindak demi rasa aman kita sendiri? Sebagai bahan pertimbangan, kita ingat bahwa keberpihakan yang salah dapat membuat kita berada pada posisi menentang Tuhan. --HEM/www.renunganharian.net


KIRANYA TUHAN MENGARUNIAKAN KEBERANIAN DAN KETEGUHAN HATI AGAR KITA SELALU BERPIHAK PADA KEBENARAN, BUKAN MENYENANGKAN HATI ORANG.


Navigation

Change Language

Social Media