MAKANAN

Baca: RUT 1:1-7


Bacaan tahunan: Keluaran 29-31

Ketika pemerintah di pelbagai negara menetapkan pembatasan aktivitas masyarakat terkait upaya pemutusan mata rantai penularan wabah, banyak usaha tutup. Kecuali kelompok usaha yang tergolong esensial. Artinya, secara langsung atau tidak, menyangkut kebutuhan makanan. Bukan berarti kebutuhan lainnya tidak penting, tetapi dalam kondisi krisis otomatis terjadilah penyaringan sampai betul-betul berkaitan dengan kebutuhan utama: makanan.

Seperti semut, manusia akan pergi ke tempat di mana ada makanan. Perjuangannya untuk mendapat makanan terbilang urutan nomor satu, meski tak jarang harus dibayar sangat mahal-seperti pengalaman keluarga Naomi. Alasan migrasi mereka ke Moab ialah ketiadaan makanan di negerinya (ay. 1). Kini, setelah kehilangan ketiga kekasih hatinya, ia pulang ke Betlehem-juga karena alasan ketersediaan makanan (ay. 6). Sebenarnya Tuhan menyediakan sebuah hari depan bagi Naomi (bukan hanya makanan), namun pertolongan itu berawal dari kebutuhan akan makanan. Pasang surut hidup manusia kebanyakan menyangkut upaya pencarian makanan. Dalam hal makanan Tuhan tetap memperhatikan umatnya!

Dalam krisis, kaum jelata pasti terpuruk. Makanan cuma tersedia harian, tak ada tabungan untuk bertahan tanpa bekerja. Pemeliharaan Tuhan harus dicari dalam keseimbangan sosial (lih. 2Kor. 8:14). Sebab hukumnya begitu. Kemana lagi kaum jelata pergi mencari makan selain ke tempat di mana masih tersedia kelebihan? Semoga kucuran dana pemerintah pusat atau daerah serta berbagai uluran tangan bantuan dari pihak kaum berkecukupan, baik secara pribadi maupun komunal, membuktikan pemeliharaan Tuhan masih berlaku. --PAD/www.renunganharian.net


KRISIS JUGA MENJADI KESEMPATAN UNTUK YANG BERKECUKUPAN MENJADI TEMPAT PELARIAN BAGI YANG BERKEKURANGAN.


Navigation

Change Language

Social Media