Renungan Harian
MEMBANDINGKAN ATAU MENSYUKURI?
27 October 2026
Ada yang menarik untuk dicermati di tengah masifnya penggunaan media sosial. Setiap hari kita diperlihatkan banyak sekali unggahan tentang prestasi, penampilan terkini, liburan ke destinasi yang mewah, hingga potret keluarga yang tampak bahagia. Melihat semua itu, tak jarang muncul pertanyaan, "Mengapa hidupku tidak seperti mereka?" Jika tidak diwaspadai, pertanyaan yang lahir dari perbandingan kondisi ini dapat membuat kita kehilangan sukacita, merasa diri tak berharga, juga dapat memicu konflik dengan pasangan.
Hari ini Pemazmur mengungkapkan rasa syukurnya atas penciptaan dirinya yang dahsyat dan ajaib. Kebenaran yang mengingatkan kita bahwa setiap manusia diciptakan dengan spesial karena Allah mengasihi kita. Jika demikian faktanya, mengapa kita hendak mengerdilkan semua itu karena pengaruh media sosial? Mengapa kehidupan yang kita jalani tidak disyukuri, tetapi malah kita bandingkan dengan kehidupan orang lain?
Ada baiknya kita berhati-hati terhadap segala bentuk perbandingan diri. Hal itu dapat menjauhkan ucapan syukur dan menghilangkan damai sejahtera. Kita pun mulai ingin menjadi seperti orang lain, padahal Tuhan berurusan dengan kita secara pribadi. Hari ini mari kita belajar memandang diri dengan "kacamata" Tuhan, bukan pantulan layar ponsel kita. Bersyukurlah atas setiap proses, talenta, dan perjalanan hidup yang Tuhan berikan. Kejarlah perkenanan Allah dan kerjakanlah panggilan hidup kita, bukan untuk bersaing tanpa henti karena pengaruh media sosial yang sebenarnya sia-sia. --GHJ/www.renunganharian.net
Hari ini Pemazmur mengungkapkan rasa syukurnya atas penciptaan dirinya yang dahsyat dan ajaib. Kebenaran yang mengingatkan kita bahwa setiap manusia diciptakan dengan spesial karena Allah mengasihi kita. Jika demikian faktanya, mengapa kita hendak mengerdilkan semua itu karena pengaruh media sosial? Mengapa kehidupan yang kita jalani tidak disyukuri, tetapi malah kita bandingkan dengan kehidupan orang lain?
Ada baiknya kita berhati-hati terhadap segala bentuk perbandingan diri. Hal itu dapat menjauhkan ucapan syukur dan menghilangkan damai sejahtera. Kita pun mulai ingin menjadi seperti orang lain, padahal Tuhan berurusan dengan kita secara pribadi. Hari ini mari kita belajar memandang diri dengan "kacamata" Tuhan, bukan pantulan layar ponsel kita. Bersyukurlah atas setiap proses, talenta, dan perjalanan hidup yang Tuhan berikan. Kejarlah perkenanan Allah dan kerjakanlah panggilan hidup kita, bukan untuk bersaing tanpa henti karena pengaruh media sosial yang sebenarnya sia-sia. --GHJ/www.renunganharian.net
BERHENTILAH MEMBANDINGKAN DIRI KARENA ALLAH MENGASIHI KITA DENGAN KASIH YANG SPESIAL.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.