Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: ROMA 11:11-24
Bacaan tahunan: Ulangan 17-20
Di zaman Palestina kuno, pohon zaitun merupakan simbol kehidupan yang sangat berharga. Pohon ini bisa hidup ratusan tahun. Akarnya menjalar kuat menembus tanah berbatu. Minyak yang dihasilkannya dipakai untuk makanan, penerangan, bahkan pengurapan kudus.
Paulus memakai gambaran pohon zaitun tersebut untuk menjelaskan relasi yang unik antara umat Israel dan bangsa-bangsa lain. Ada cabang yang patah, ada cabang liar yang dicangkokkan. Namun, keduanya tetap bergantung pada satu sumber: akar pohon yang penuh getah, yaitu Allah sendiri (ay. 17).
Itu mengingatkan bahwa hidup umat beriman tidak pernah berdiri sendiri. Boleh jadi kita merasa kuat, pintar, atau berhasil. Namun, sesungguhnya kita hanyalah "cabang" yang bisa hidup karena bersatu dengan akar. Karena itu, Paulus menegur jemaat Roma agar tidak sombong-sebab cabang bukan yang menanggung akar, melainkan akar yang menanggung cabang (ay. 18). Ini adalah teguran bagi siapa pun yang merasa lebih rohani, lebih layak, atau lebih penting daripada orang lain. Sesungguhnya, kita semua adalah penerima kasih karunia, yang dicangkokkan ke dalam Pohon Kehidupan (Allah).
Sering kali kita lupa bahwa segala sesuatu bersumber dari kasih setia Tuhan. Kita mudah berbangga atas prestasi, kedudukan, atau pelayanan yang berhasil. Lalu, kita menganggap orang lain kurang penting. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk belajar rendah hati. Sebab, kita dipanggil bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk hidup saling menopang. Sehingga kita semua menjadi cabang yang menghasilkan buah: kasih, sukacita, serta damai sejahtera. --SAP/www.renunganharian.net
PERSATUAN DENGAN ALLAH DI SURGA TERSEDIA PULA DALAM KEHIDUPAN INI BAGI MEREKA YANG RENDAH HATI.-THOMAS KEATING
Please sign-in/login using: