MELEWATI PROSES

Baca: YESAYA 64


Bacaan tahunan: Hakim-hakim 6-7

Seorang perajin tembikar menceritakan sulitnya proses pembuatan setiap tembikar. Tanah liat harus dipilih, dibersihkan dari batu dan kotoran, kemudian dibasahi, ditekan, diputar, dibentuk, dibakar dalam api dua kali, lalu diberi lapisan glasir. Seorang pemuda bertanya, "Mengapa bejana ini harus dibakar dua kali?" Perajin itu menjelaskan, "Kalau hanya dibakar sekali, bentuknya belum kuat. Namun, setelah dua kali dibakar, barulah ia tahan lama dan berguna. Proses inilah yang membuatnya berharga."

Dari firman Tuhan, kita membaca tentang umat Israel yang menyadari posisi mereka di hadapan Tuhan. Sebuah pengakuan bahwa mereka hanyalah tanah liat, dan Tuhan adalah Sang Penjunan (pembentuk bejana). Sebuah bentuk ketergantungan dan penyerahan penuh kepada kehendak Tuhan. Tanah liat tidak bisa membentuk dirinya sendiri. Ia harus rela dibentuk, diolah, dan melalui proses yang kadang menyakitkan. Namun, hasilnya adalah karya tangan Tuhan yang unik, bernilai, dan sesuai dengan tujuan-Nya.

Tuhan tidak membentuk karakter kita dalam sekejap, tetapi melalui waktu, tekanan, dan ujian iman. Ketika kita berserah, Tuhan memakai semua pengalaman itu untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, dan semakin serupa dengan-Nya. Mungkin saat ini kita sedang berada dalam "tungku pembakaran" yang membuat kita merasa panas, tidak nyaman, dan ingin menyerah. Namun, Sang Penjunan berkata bahwa proses ini akan membawa hasil kekal jika kita bertahan dan tetap memercayai-Nya. --SYS/www.renunganharian.net


MENJADI BEJANA YANG SEMPURNA DIBUTUHKAN PROSES YANG HARUS KITA JALANI DENGAN KESABARAN DAN KETAATAN.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media