MEMANTUL

Baca: Matius 7:1-14


Bacaan tahunan: Amsal 20-23

Setiap kita selalu punya ekspektasi kepada orang lain. Kita berharap akan disayangi, menantikan untuk dipuji, memperhitungkan pasti dihargai, dan mengandalkan asumsi bakal diperlakukan dengan baik. Manakala itu tidak terjadi, reaksi kita biasanya jengkel, marah, kecewa, gusar, atau sedih. Lalu, harus ada pihak yang kita jadikan sasaran untuk dipersalahkan-kecuali diri sendiri.

Sebagai bagian dari khotbah di bukit, Matius pasal 7 mengemukakan satu prinsip yang boleh dinamai kaidah bumerang. Maksudnya, karena dalam hidup ini berlaku hukum "menuai apa yang kita tabur", maka sepatutnya kita mewaspadai apa yang kita kerjakan supaya jangan heran akan buah yang kita peroleh darinya. Terutama waspadai tiga perkara ini: menilai sesama (ay. 1-5), berdoa (ay. 6-11), dan perilaku kita (ay. 12). Dalam hal perilaku jelas sekali bahwa segala yang kita "lemparkan" kepada orang di sekitar akan "kembali" kepada kita dalam wujud serupa. Jadi, nasihat Yesus, lakukan antisipasi terhadap ekspektasi kita (ay. 12).

Pengajaran Yesus sebenarnya radikal. Segar. Menjanjikan perubahan. Asalkan diikuti, dijalankan justru mulai dari diri kita sendiri. Masalahnya, kita lebih sering berekspektasi, tanpa berantisipasi. Mengharap tuaian tanpa menabur. Mengharap dihargai tanpa mulai menghargai lebih dulu. Memperhitungkan adanya laba tapi enggan menanam modal. Minta diperlakukan baik tapi enggan bersikap baik. Selama kita tidak beranjak dari tempat, bagaimana perubahan akan terjadi? --PAD/www.renunganharian.net


HIDUP INI SERBA MEMANTUL BAK CERMIN- KITA HANYA MENERIMA PANTULAN DARI APA YANG KITA BERIKAN.


Navigation

Change Language

Social Media