Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: KEJADIAN 29:1-30
Bacaan tahunan: Keluaran 1-3
Yakub, menurut arti namanya adalah penipu. Sejak kelahirannya, di mana Yakub kecil memegang tumit Esau seolah hendak bersaing keluar kandungan, nuansa persaingan terasa dalam kehidupan dua saudara kandung itu. Hingga akhirnya persaingan itu memuncak ketika Yakub menipu Esau, bukan hanya sekali, melainkan dua kali. Setelah kejadian penukaran hak kesulungan dengan sup kacang merah, sekali lagi Yakub menipu Esau dengan muslihat yang dilakukannya bersama Rahel, ibunya, ketika Ishak hendak memberikan berkat kesulungan.
Setiap kali membaca berita tentang penipuan, mungkin akan tebersit satu pertanyaan, "Apakah mereka tidak takut kelak menuai aksi tipu-menipu yang mereka lakukan?" Pemikiran ini terasa logis karena kita mengingat adanya hukum tabur-tuai yang masih berlaku selama bumi masih ada, seperti yang pernah Allah ucapkan sesaat setelah Nuh keluar dari bahtera (Kej. 8:22). Catatan Alkitab mengenai Yakub, yang akhirnya harus terkena tipu daya Laban ketika ingin meminang Rahel, tetapi malah diberi Lea, lalu Yakub masih harus bekerja tujuh tahun lagi, menunjukkan bahwa hukum tabur-tuai sedang dialami Yakub.
Tercatatnya kisah Yakub tentu bukan tanpa maksud. Allah ingin setiap orang yang membaca kisah itu dapat menyadari adanya konsekuensi dari setiap perbuatan di dunia, termasuk aksi tipu-menipu yang masih juga terjadi sampai hari ini. Suatu kesadaran yang diharapkan dapat direspons dengan positif, yakni dengan berupaya menjalani hidup benar dan menjauhkan niat untuk menipu orang lain. --GHJ/www.renunganharian.net
SETIAP PERBUATAN DI DUNIA ADA KONSEKUENSINYA SUPAYA MANUSIA BELAJAR BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK.
Please sign-in/login using: