KEBAIKAN YANG BERBAHAYA

Baca: 2 SAMUEL 15:1-12


Bacaan tahunan: 2 Raja-raja 16-17

Dalam dunia yang penuh dengan dosa, kebaikan pun dapat menjadi alat kejahatan. Digunakan sebagai topeng untuk menipu atau mengelabui orang-orang. Itu adalah kebaikan yang tidak tulus. Hanya sebuah upaya untuk memuluskan rencana bulus. Tentunya berasal dari hati yang tidak lurus serta tidak kudus.

Itulah yang dilakukan Absalom untuk meraih simpati rakyat Israel. Ia berdiri setiap pagi di depan gerbang istana Raja Daud, ayahnya. Ia mendengarkan setiap perkara mereka, serta menyatakan pemihakannya terhadap mereka. Ia menyambut mereka dengan sangat ramah, dengan uluran tangan dan ciuman seorang pangeran (ay. 5). Lalu ia menyampaikan kampanye terselubung, bahwa sekiranya ia diangkat menjadi hakim, ia akan menyelesaikan masalah mereka dengan adil. Ia juga merongrong wibawa ayahnya dengan menyebutkan bahwa dari pihak raja tidak ada yang peduli dengan mereka (ay. 3). Hasilnya, setelah 4 tahun, mayoritas orang Israel pun memihak Absalom. Saat itulah terungkap tujuan Absalom yang sebenarnya. Ia ingin menjadi raja dengan mengudeta ayahnya sendiri (ay. 10). Peperangan yang memakan banyak korban pun terjadi.

Mengapa kita berbuat baik kepada seseorang? Apakah karena kita memiliki agenda tersembunyi demi keuntungan diri sendiri? Apakah sebenarnya kita sedang berupaya menjatuhkan atau menghancurkan seseorang? Tindakan yang demikian bukanlah hal yang terpuji serta tidak sepantasnya dilakukan oleh anak-anak Allah. Dia ingin kita berperilaku yang baik dengan tulus, agar kebaikan kita menuntun mereka memuliakan Allah (Mat. 5:16). --HT/www.renunganharian.net


HENDAKLAH KEBAIKAN HATI KITA DIKETAHUI OLEH SEMUA ORANG, DAN KIRANYA KEBAIKAN ITU TULUS ADANYA.


Navigation

Change Language

Social Media