MAAFKAN PAPA, NAK

Baca: Efesus 6:1-9


Bacaan tahunan: Kisah Para Rasul 14-16

Seorang ayah sedang berusaha mengganti popok putrinya yang baru berusia 4 bulan. Laki-laki itu tampak kesulitan karena si bayi terus bergerak. Laki-laki itu hampir marah dan berteriak pada putrinya, ia sudah tidak sabar. Ia ingin berteriak tapi kemudian ia sadar tindakannya salah. Ia ingin minta maaf kepada putrinya. Tetapi, apakah hal itu logis? Namun, ia tahu, bahwa ini merupakan kesempatan baginya untuk mengawali pola hidup minta maaf apabila ia melakukan kesalahan, bahkan, kepada bayinya. "Maafkan Papa, Nak, " katanya. Permintaan maaf itu baik, untuk diri sang ayah dan putrinya!

Nasihat Rasul Paulus agar kita tidak membangkitkan amarah di hati anak-anak dan mengajar mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan, secara umum ditujukan kepada para orang tua terhadap-anak-anaknya. Sebuah nasihat berkata: tempat tersulit untuk menyatakan diri sebagai pengikut Kristus yang konsisten adalah rumah. Saat kita berada di rumah, dikelilingi orang-orang yang mengenal kita dengan sangat baik, sangat sulit untuk berpura-pura. Terkadang kita sulit mengontrol emosi dan meluapkan kemarahan kepada anak-anak kita. Dan tanpa sadar kita telah membangkitkan amarah dalam hati mereka.

Kita membutuhkan keberanian yang cukup untuk merendahkan hati. Ya, kita harus belajar merendahkan hati untuk meminta maaf ketika kita telah menyakiti hati anak-anak kita. Setiap perkataan maaf yang keluar dari mulut kita memberi teladan positif bagi mereka. Mereka pun akan belajar menyampaikan kata maaf atas setiap kesalahan yang diperbuatnya. --SYS/www.renunganharian.net


PEMULIHAN TERJADI KETIKA KITA PUNYA KERELAAN HATI UNTUK MEMINTA MAAF KEPADA ANAK-ANAK KITA.


Navigation

Change Language

Social Media