PENOLONG, BUKAN PERONGRONG!

Baca: Ayub 2:1-13


Bacaan tahunan: Kisah Para Rasul 17-19

Ada banyak kisah tentang suami atau istri yang meninggalkan pasangannya justru saat kehadiran mereka paling dibutuhkan. Ada suami yang menelantarkan istrinya ketika sang istri divonis sakit tertentu. Ada istri yang meninggalkan suaminya saat bisnis sang suami bangkrut. Kisah-kisah seperti ini banyak di sekitar kita. Ketika pasangan sehat dan produktif, karir naik, bisnis lancar, dapat diandalkan secara materi, maka banyak pasangan yang sepertinya hidup saling mencintai. Tapi ketika hal sebaliknya terjadi, kasih dan kesetiaan pasangan sungguh diuji. Istri Ayub gagal dalam ujian ini.

Ayub adalah seorang yang saleh dan takut akan Tuhan. Ia punya tujuh putra dan tiga putri, dan semuanya hidup rukun (Ayb. 1:2, 4). Hartanya melimpah. Namun semua itu musnah dalam sekejap ketika pasukan musuh merampas segalanya, serta ada bencana yang membuatnya kehilangan segala miliknya, termasuk semua anaknya. Bukan itu saja, Ayub pun mengalami penyakit yang mengerikan.

Dalam situasi yang demikian, istrinya bangkit. Namun ia bukannya menopang atau menguatkan Ayub, malahan merongrongnya. Ia mendesak agar Ayub meninggalkan hidupnya yang saleh, mengutuki Allah, dan mati. Padahal sebagai orang yang paling dekat dengan Ayub, seharusnya ia berperan menjadi "penolong yang sepadan" (Kej. 2:18). Syukurlah Ayub tetap teguh dalam imannya. Kiranya kita bercermin dari kegagalan istri Ayub, agar kita jangan menjadi perongrong, melainkan penolong di saat orang-orang terkasih kita paling memerlukan kehadiran kita. --HT/www.renunganharian.net


DALAM DUKA DAN KEMALANGAN ORANG-ORANG TERKASIH KITA, HENDAKLAH KITA MENJADI PENOLONG DAN BUKAN PERONGRONG.


Navigation

Change Language

Social Media