MEMANDANG TUHAN

Baca: 2 RAJA-RAJA 7


Bacaan tahunan: Nehemia 9-10

"Tidak mungkin!" kata banyak orang ketika mendengar saya dan kakak akan sama-sama masuk kuliah. Memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari saja susah, bisa-bisanya nekat kuliah. Jujur, semula kami berpendapat sama. Jika tidak mampu membayar, kami bisa putus kuliah. Itu berarti hanya membuang uang dan waktu! Namun demikian, kami berkeyakinan kalau kami bisa. Sebabnya, kami punya Tuhan. Alih-alih melihat situasi yang tidak menjanjikan, kami memandang kepada Tuhan. Sekalipun kerap kali mengalami kesulitan keuangan, kami berdua lulus tepat waktu.

"Sekalipun Tuhan membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?" kata perwira yang menjadi ajudan raja ketika Elisa mengatakan kalau besok sesukat tepung terbaik dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal (ay. 1-2). Situasi menampakkan kemustahilan karena sedang terjadi kelaparan di kota Samaria. Pada waktu senja berjalanlah empat orang kusta ke perkemahan tentara Aram (ay. 3-5). Tuhan membuat bunyi langkah kaki mereka terdengar seperti bunyi kereta, kuda dan tentara yang besar. Tentara Aram ketakutan dan lalu lari meninggalkan perkemahan yang melimpah dengan bahan makanan (ay. 6-7). Nubuatan Elisa tergenapi! (ay. 16).

Jika kita melihat situasi, dapat muncul perasaan sedih dan tawar hati. Ujungnya kita menjadi depresi. Namun jika kita memandang kepada Tuhan, muncullah kekuatan. Alih-alih melihat situasi, pandanglah Tuhan! Semustahil apa pun situasi yang tampak di depan mata, kita yakin Tuhan dapat turut campur tangan bekerja. Seburuk apa pun situasi kita alami, kita percaya Tuhan mampu ubahkan menjadi indah. --LIN/www.renunganharian.net


MUKJIZAT TERJADI SAAT KITA MENGALIHKAN PANDANGAN MATA KITA DARI SITUASI KEPADA TUHAN.


Navigation

Change Language

Social Media