MEMORI

Baca: LUKAS 24:1-8


Bacaan tahunan: 1 Samuel 17-18

Otak kita diciptakan Tuhan dengan kemampuan luar biasa untuk menyimpan memori. Penyimpanan memori penting sekali saat kita baru dilahirkan. Keluar dari rahim menghadirkan rasa tidak aman yang besar. Namun ketika ibu segera menggendong, menyusui, menimang, kita menjadi tenang. Pengalaman itu tersimpan dalam memori otak. Seterusnya bertambah, menjadi tumpukan kenangan baik perasaan dikasihi. Kelak, apabila terpisah dari ibu dan merasa tidak nyaman, otak kita memanggil memori itu untuk menenangkan kita. Dengan cara itulah kemandirian kita bertumbuh karena memori perasaan dikasihi menyuburkannya.

Empat puluh hari sesudah kebangkitan Yesus ialah kurun waktu penting bagi persiapan murid-murid untuk berpisah dengan-Nya. Yesus akan kembali ke surga. Mereka harus "berlatih" kedewasaan iman meskipun Yesus secara fisik tak lagi berada dekat. Mereka harus mulai membiasakan diri dengan relasi baru sesudah Dia kembali ke surga. Caranya, yaitu dengan "memanggil kembali" ingatan atau kenangan akan kehadiran serta perkataan-Nya sewaktu masih berkumpul bersama mereka (ay. 7-8). Memori bahwa mereka dikasihi Yesus, itulah yang akan menenangkan jiwa kala mereka sedih, kecewa, atau takut akibat ''ketidakhadiran" Yesus.

Sesudah dilahirkan kembali secara rohani, kita mulai menerima pengasuhan iman melalui asupan firman Tuhan. Firman Tuhan mulai memengaruhi kita untuk mengenal serta merasakan kasih Tuhan secara pribadi. Ketika hidup ini terasa berat menekan, kesukaran mengadang, Tuhan "serasa jauh", maka ingatan (memori) akan kasih-Nya kepada kita berfungsi menguatkan, meneguhkan, dan meneduhkan hati kita. Kedewasaan iman bertumbuh melalui kenangan akan perkataan dan perbuatan-Nya dalam hidup kita. --PAD/www.renunganharian.net


PADA MASA SULIT FIRMAN TUHAN MEMBANGKITKAN INGATAN AKAN KASIH TUHAN KEPADA KITA.


Navigation

Change Language

Social Media