MATI SEBELUM BANGKIT

Baca: ROMA 6:1-14


Bacaan tahunan: 1 Samuel 14:24-16

Sebagian orang mudah merasa iri melihat kesuksesan orang lain. Saat menyaksikan kehidupan artis melalui tayangan televisi, atau melihat kesuksesan seorang youtuber, misalnya. Mereka berkomentar: "Betapa senangnya dia! Kerjanya gampang, uangnya banyak!" Siapa sangka jika di balik kesuksesan itu tersembunyi perjuangan panjang yang melelahkan dan menguras emosi?

Cerita kebangkitan Yesus menjadi bagian yang membawa sukacita tersendiri bagi orang percaya. Apalah artinya jika setelah kematian-Nya Yesus tidak mengalami kebangkitan? Bukankah Ia hanya akan menjadi sama seperti manusia pada umumnya? Jika demikian, sia-sialah kita beriman kepada-Nya.

Kisah kebangkitan Yesus dan harapan manis yang menyertainya menjadi fokus sebagian orang percaya. Kita lupa bahwa kebangkitan Yesus didahului dengan proses panjang yang penuh penderitaan dan pengorbanan hingga kematian. Kita mau mengikut Yesus karena ingin berkat-Nya: kuasa kebangkitan-Nya yang disertai dengan mukjizat. Namun kita enggan melakukan perjuangan "menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya". Padahal, kebangkitan harus selalu didahului dengan kematian.

Mari sadari bahwa kita harus menyalibkan manusia lama kita supaya mati terhadap dosa! Kita harus terputus dari segala bentuk dosa, untuk kemudian mengalami kebangkitan: hidup baru dalam iman dan kasih. Lagi pula kebangkitan dan hidup baru di dalam Tuhan tidak boleh kita salah artikan sebagai sebuah kebebasan. Sebab mengalami kebangkitan berarti bangkit untuk memberi hidup bagi Allah. --EBL/www.renunganharian.net


TIDAK ADA KEBANGKITAN YANG TIDAK DIDAHULUI DENGAN KEMATIAN. KEBANGKITAN ROHANI HARUS DIAWALI DENGAN MEMATIKAN YANG DUNIAWI.


Navigation

Change Language

Social Media