MENABUR BENIH FIRMAN

Baca: LUKAS 8:4-15


Bacaan tahunan: 2 Raja-raja 24-25

Di musim tanam padi, para petani selalu mempersiapkan benih untuk ditaburkan di sawah atau ladangnya. Padahal benih-benih itu mungkin akan dimakan burung atau dirusak hewan lainnya. Bisa saja banjir datang atau tanah longsor menimbunnya. Atau dirusak hama. Tidak ada jaminan bahwa ia akan berhasil. Tetapi dengan segala kemungkinan itu, sang petani tetap saja menabur. Tentu dengan harapan kelak menuai hasilnya.

Ketekunan sang petani menaburkan benih dapat kita bandingkan juga dengan para penabur firman Tuhan. Ketika firman ditaburkan, berbagai respons akan muncul. Ada yang menyambut dengan sukacita, mengimani dan menghidupinya (ay. 15). Namun ada juga yang mengabaikannya (ay. 12), ada yang menerimanya hanya jika itu menyenangkannya (ay. 13), ada juga yang menerimanya, namun tidak sungguh memahami kuasanya, sehingga firman itu tidak berarti baginya (ay. 14). Begitu pun kita seharusnya tidak berhenti menaburkan firman kebenaran.

Kita harus percaya akan kuasa benih rohani, yaitu firman Allah. Kita perlu berlatih untuk menyampaikannya dengan sederhana dan mudah dimengerti, serta relevan dengan kehidupan pendengar. Tapi kita sungguh memerlukan campur tangan Allah untuk membuatnya bertumbuh dan berbuah dalam hidup manusia. Sebab pada hakekatnya, manusia telah mati secara rohani. Hanya Roh Allah yang dapat menghidupkan mereka. Tepatlah yang Paulus katakan, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan" (1Kor. 3:6). Tetaplah tekun menaburkan firman-Nya! --HT/www.renunganharian.net


SEPERTI PETANI TEKUN MENABURKAN BENIH DI LADANGNYA, DEMIKIANLAH HENDAKNYA SETIAP MURID KRISTUS BERTEKUN MENABURKAN FIRMAN-NYA.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media