MENYESAL BELI KEBANYAKAN

Baca: KELUARAN 16:14-20


Bacaan tahunan: Markus 14-16

Telah lazim bagi masyarakat konsumen di Amerika untuk mengembalikan barang belanjaan asalkan masih memenuhi syarat, misalnya belum lewat sebulan. Menyusul terjadinya gejala panik berbelanja belakangan ini beberapa konsumen egois, serakah, rupanya menyesal membeli terlalu banyak. Mereka memanfaatkan kebijakan itu dengan mengusung bertumpuk kelebihan belanjaan tadi untuk dikembalikan. Namun, untuk kasus ini toko-toko telah memasang peringatan: "Tidak berlaku pengembalian akibat panik berbelanja."

Dalam perjalanan keluar dari Mesir, selain memelihara umat Israel, Tuhan juga mengajar mereka. Pemeliharaan berjalan seiring dengan pengajaran. Misalnya, kasus penyediaan manna dan pengajaran tentang Sabat. Pemeliharaan Tuhan harus disambut dengan tanggung jawab untuk mencukupkan diri. Sementara kesanggupan untuk berhenti serta berkata cukup adalah jiwa dari Sabat. Mencukupkan diri bekerja supaya tersedia waktu bagi Tuhan. Mencukupkan diri mengambil jatah supaya tersedia jatah bagi sesama. Tak rela berhenti (berkata cukup) ialah benih dari keserakahan. Tidak heran Tuhan membencinya.

Makanan tidak pernah hanya mengenai diri sendiri. Makanan selalu menghubungkan kita dengan banyak pihak dalam mata rantai saling ketergantungan. Kalau kita percaya Tuhan memelihara kita, jangan hanya berpikir asal kita kenyang atau jatah untuk kita tersimpan aman. Tak baik mengambil kesempatan dalam kesempitan melampaui kebutuhan kita. Sebab kelebihan itu sebenarnya jatah sesama, tetapi dirampas akibat kerakusan kita. Bukankah Yesus mengajar kita berdoa untuk meminta makanan yang secukupnya (Mat. 6:11)? --PAD/www.renunganharian.net


DUNIA SELALU CUKUP UNTUK MENAMPUNG KEBUTUHAN SETIAP ORANG TETAPI TAK PERNAH CUKUP UNTUK MENAMPUNG KESERAKAHANNYA.-MAHATMA GANDHI


Navigation

Change Language

Social Media