MIMESIS

Baca: 2 TIMOTIUS 2:1-13


Bacaan tahunan: Matius 15-17

Sejak awal John Bunyan, seorang penulis dan pengkhotbah ternama di abad 17, menyadari bahwa penderitaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan. Oleh karena itu, Bunyan menganggap 14 tahun mendekam di balik jeruji penjara merupakan konsekuensi dari pelayanan yang dikerjakannya. Ia tak gentar dan rela menjalani seluruh rangkaian penderitaan dalam pelayanan sebagai bentuk peneladanan tindakan (baca: mimesis) layaknya seorang prajurit Kristus.

Sikap Bunyan merupakan respons positif terhadap seruan Rasul Paulus (ay. 3). Ia tahu kalau seruan tersebut bersumber dari tindak peneladanan sang rasul terhadap Yesus yang menjadi role model-nya. Seluruh penderitaan Yesus melandasi semangat Paulus dalam memenuhi panggilan untuk menderita bersama dengan Dia. Panggilan tersebut ia buktikan melalui hidupnya yang lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut (2Kor. 11:23) oleh karena nama Kristus.

Sebagai prajurit Kristus, Paulus memahami benar arti penderitaan dan kemuliaan yang berada di baliknya (ay. 10-13). Kemuliaan seorang prajurit Kristus diperoleh hanya melalui tindak ketaatannya dalam menanggung penderitaan oleh karena nama-Nya. Ketaatan ini berangkat dari kesadaran bahwa penderitaan adalah bagian yang tak terelakkan dalam hidup para prajurit Kristus sejati.

Penderitaan adalah rangkaian tindak peneladanan dalam hidup kekristenan. Bunyan mengikuti jejak Paulus dalam menjalani seluruh penderitaan dalam pelayanan, sebagaimana penderitaan Yesus menjadi satu-satunya acuan berharga bagi Paulus. --EML/www.renunganharian.net


MIMESIS DALAM HIDUP KEKRISTENAN IALAH SESUATU YANG AKAN TERUS BERULANG DENGAN PENDERITAAN YESUS SEBAGAI SENTRALNYA.


Navigation

Change Language

Social Media