PROSES MELEMBUTKAN HATI

Baca: 2 SAMUEL 16:5-14


Bacaan tahunan: Bilangan 35-36

Tidak semua orang bersedia dikritik. Apalagi diungkap sisi buruk kehidupannya. Lebih menyakitkan, apa reaksi kita jika ada orang yang mengucapkan kata-kata kutuk dan menyumpahi diri kita dengan kabar celaka? Jelas sulit untuk bisa menahan hati. Tidak mudah menahan mulut untuk diam. Kita cenderung berusaha membungkam para pengkritik kita dengan menuntut keadilan dan membela diri.

Daud mengalami hal itu. Ketika ia dalam perjalanan karena melarikan diri dari kejaran Absalom, Simei terus-menerus mengutuki Daud sambil melempari batu. Tindakan Simei ini membuat Abisai marah dan minta izin kepada Daud untuk memenggal kepalanya. Namun, Daud mencegah dan berkata, "Biarkanlah dia, biarlah ia mengutuk, sebab Tuhan telah berfirman kepadanya demikian." Daud menahan diri, dia tidak berusaha membela diri, sebaliknya ia menunjukkan kelembutan hatinya dengan tunduk kepada kehendak Tuhan. Dalam situasi yang menekan, Daud belajar untuk memercayakan dirinya kepada Allah. Daud belajar berserah bahwa Tuhan akan memperhatikan kesengsaraannya dan akan membalas yang baik sebagai ganti dari kutukan yang diucapkan oleh Simei itu.

Apakah kita sedang menghadapi orang-orang yang berusaha menyerang dengan kata-kata jahatnya? Seperti Daud, mari belajar untuk menahan hati dan berserah, belajar untuk memusatkan hati kita kepada Tuhan Yang Maha Adil. Belajar untuk percaya bahwa dalam setiap situasi buruk pun Tuhan sedang mengerjakan rencana-Nya yang indah. Ketika disakiti, kita belajar untuk tetap mengasihi dan mengampuni. Ketika membutuhkan jawaban, kita terus menanti-nantikan Tuhan yang mampu memberikan kemampuan dan menyatakan keadilan-Nya.
-SYS/www.renunganharian.net


TUDUHAN DAN PERKATAAN PEDAS TENTU MENYAKITKAN HATI, TETAPI TUHAN BISA MEMAKAINYA UNTUK MEMBENTUK KELEMBUTAN HATI KITA


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media