TAK TAMPAK TAPI BERDAMPAK

Baca: MARKUS 6:30-44


Bacaan tahunan: Amsal 6-10

Sebuah akar tidak akan menanyakan: "Kapan aku menjadi daun yang hijau?" Ia tidak bertanya: "Kapan aku menjadi bunga yang indah?" Mengapa? Karena dia adalah tonggak utama sebuah pohon meski tak terlihat. Akar tidak menonjolkan diri. Akar tidak pernah mendapatkan pujian sekalipun akar yang bekerja terus dan mengabdikan diri demi batang, daun dan bunga.

Tanpa adanya akar, maka tidak akan ada batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang hijau, bunga yang indah ataupun buah yang ranum. Semua ini ada karena adanya akar yang selalu siap bekerja. Bekerja tanpa pamrih. Bekerja tanpa menuntut pengakuan. Sekalipun berada di tempat yang paling rendah dan tersembunyi, namun batang, bunga, daun dan bagian pohon lainnya pada akhirnya menyadari bahwa mereka ada atas kerja keras akar. Akar akan mati dengan kebanggaan, bahwa selama ini dia tidak menggantungkan hidupnya pada yang lain.

Bukankah filosofi seperti ini yang seharusnya menjadi dasar pelayanan kita? Dalam hal ini, Kristus adalah teladan sempurna bagi kita. Sama seperti filosofi sebuah akar, Yesus sangat memahami peran-Nya hidup dalam panggilan Bapa. Ia datang bukan untuk dilayani, tapi melayani. Ia datang untuk memberi, bukan untuk menerima. Ia melayani bukan untuk mencari makan, namun memberi makan. Ia tidak meminta belas kasihan, namun lebih suka memedulikan dan menolong orang yang membutuhkan-Nya. Belajar dari akar, dasar pelayanan kita kepada Tuhan dan sesama adalah menjadi hamba dan memberi. Tidak menonjolkan diri, tetapi mengarahkan diri kepada Tuhan, Sang Empunya pelayanan. Meski diri tak nampak, namun berdampak. --SYS/www.renunganharian.net


AKAR ITU TIDAK INGIN MENAMPAKKAN DIRINYA, NAMUN IA MENOPANG DAN MEMBERI DAMPAK BESAR.


Navigation

Change Language

Social Media