Renungan Harian
DARI TIGA MENJADI EMPAT
17 July 2026
Kisah keteguhan iman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang menentang otoritas Raja Nebukadnezar menjadi kisah petualangan iman yang menarik. Seandainya pada zaman tersebut sudah ada media sosial, selain pro dan kontra terhadap ancaman bagi siapa pun yang tidak menyembah patung emas yang dibuat oleh Nebukadnezar, nasib ketiga hamba Allah yang dimasukkan ke dalam perapian pasti menjadi perbicangan yang tiada pernah habis.
Hari itu, Allah membalikkan keyakinan semua orang di wilayah kekuasaan Nebukadnezar bahwa ketiga hamba Allah itu pasti mati. Ia bahkan membuka mata Nebukadnezar sehingga raja melihat ada pribadi keempat di tengah api. Frasa "anak dewa" seolah menjadi jawaban langsung terhadap kecongkakan Nebukadnezar, "Dewa mana yang dapat melepaskan kamu dari tanganku?" (ay. 15). Selanjutnya, demi memastikan penglihatannya tidak salah, raja memanggil mereka keluar, lalu mendapati kondisi mereka sangat baik, bahkan bau kebakaran pun tidak ada (ay. 27).
Kisah keteguhan iman ketiga hamba Allah itu menghadapi dapur api tak hanya menggambarkan tekanan besar terhadap iman, tetapi menjadi bukti keajaiban yang Allah perbuat. Mungkin tantangan iman yang kita hadapi tidak seekstrem kisah mereka, tetapi keteguhan iman mereka dapat kita teladani. Sampai hari ini dunia berupaya menguji keteguhan iman orang percaya, baik lewat bujukan halus hingga tekanan yang sangat jelas. Seandainya ujian iman itu menghampiri kita, apakah kita tetap teguh dalam iman atau segera berkompromi terhadap tawaran dunia? --GHJ/www.renunganharian.net
Hari itu, Allah membalikkan keyakinan semua orang di wilayah kekuasaan Nebukadnezar bahwa ketiga hamba Allah itu pasti mati. Ia bahkan membuka mata Nebukadnezar sehingga raja melihat ada pribadi keempat di tengah api. Frasa "anak dewa" seolah menjadi jawaban langsung terhadap kecongkakan Nebukadnezar, "Dewa mana yang dapat melepaskan kamu dari tanganku?" (ay. 15). Selanjutnya, demi memastikan penglihatannya tidak salah, raja memanggil mereka keluar, lalu mendapati kondisi mereka sangat baik, bahkan bau kebakaran pun tidak ada (ay. 27).
Kisah keteguhan iman ketiga hamba Allah itu menghadapi dapur api tak hanya menggambarkan tekanan besar terhadap iman, tetapi menjadi bukti keajaiban yang Allah perbuat. Mungkin tantangan iman yang kita hadapi tidak seekstrem kisah mereka, tetapi keteguhan iman mereka dapat kita teladani. Sampai hari ini dunia berupaya menguji keteguhan iman orang percaya, baik lewat bujukan halus hingga tekanan yang sangat jelas. Seandainya ujian iman itu menghampiri kita, apakah kita tetap teguh dalam iman atau segera berkompromi terhadap tawaran dunia? --GHJ/www.renunganharian.net
KETIKA KITA SETIA BERDIRI DALAM IMAN, TUHAN TIDAK MEMBIARKAN KITA SENDIRIAN.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.