DI ANTARA DUA PILIHAN

Baca: 1 SAMUEL 3


Bacaan tahunan: Daniel 10-12

Kecenderungan manusia adalah segan menyampaikan secara langsung mengenai segala sesuatu yang buruk tentang lawan bicaranya. Terlebih jika lawan bicaranya adalah seseorang yang memiliki jabatan, kehormatan, atau kedekatan khusus. Jika terpaksa harus disampaikan, pastilah diusahakan dengan sedemikian rupa supaya tidak terlalu menyakiti hati. Inilah yang dirasakan Samuel setelah Tuhan berbicara kepadanya.

Samuel diperhadapkan pada situasi yang sulit saat harus menjawab pertanyaan Imam Eli tentang pesan yang disampaikan Tuhan kepadanya. Samuel segan harus menyampaikan berita penghukuman dari Tuhan bagi keluarga Eli. Bagaimana mungkin ia memiliki keberanian menyampaikan kabar buruk kepada orang yang merupakan bapak dan mentor rohaninya? Apalagi Samuel adalah seorang anak yang masih muda. Ia baru mengalami panggilan Allah untuk pertama kali. Bahkan yang memberitahunya bahwa Allahlah yang memanggilnya adalah Imam Eli. Tetapi pada akhirnya Samuel memilih untuk mengatakan yang jujur dari Tuhan.

Tidak sedikit orang yang memilih untuk berbohong demi menjaga hati lawan bicaranya. Mereka menganggap tidak ada salahnya berbohong demi kebaikan. Rasa segan, tidak enak hati dan takut menyakiti harus dinomorduakan ketika kita diperhadapkan dengan tanggung jawab atas kebenaran. Menyuarakan kebenaran mungkin menimbulkan risiko. Namun menanggapi panggilan hidup sebagai seorang pelayan Tuhan harus dilakukan dengan serius. Salah satunya adalah menjaga kekudusan hidup, tidak membiarkan dusta mencemarinya. --EBL/www.renunganharian.net


KEJUJURAN MUNGKIN MENOREHKAN LUKA, TETAPI KEBAHAGIAAN KARENA DUSTA BERSIFAT SEMENTARA.


Navigation

Change Language

Social Media