Renungan Harian
ESKALASI KONFLIK
21 August 2025
Awalnya, Yerobeam adalah seorang pegawai Salomo. Namun, konflik kemudian terjadi dan Salomo berusaha membunuhnya. Yerobeam pun lari ke Mesir (1Raj. 11:26-40). Rehabeam, anak Salomo, menjadi raja setelah Salomo meninggal. Yerobeam dan orang Israel datang pada Rehabeam dengan maksud mengakhiri konflik. Jika dikabulkan, Yerobeam dan orang-orangnya bersedia menjadi hamba Rehabeam.
Namun, bukannya mengikuti nasihat dari para tua-tua yang mendampingi Salomo selama hidupnya, Rehabeam malah mengikuti perkataan orang-orang muda yang sebaya dengan dia dengan mengatakan raja akan menambah tanggungan dengan menghajar mereka dengan cambuk berduri besi (ay. 11, 14). Hal ini ibarat api kecil yang dapat dipadamkan dengan sedikit air, tetapi ternyata malah diguyur dengan bensin. Konflik pun tak terelakkan dan di sinilah awal orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud (ay. 19).
Eskalasi konflik seperti kisah di atas terjadi karena mengabaikan nasihat yang lebih berkualitas, tinggi hati karena menganggap diri sendiri lebih dari orang lain, dan mengutamakan emosi dalam membuat keputusan. Efek negatifnya dapat mewabah melintasi generasi. Karenanya, hindari eskalasi konflik dengan kerendahhatian (Ams. 18:12) dan berusaha mendapatkan perdamaian (Mzm. 34:15) sehingga dapat dicapai solusi tanpa tragedi.
-HC/www.renunganharian.net
Namun, bukannya mengikuti nasihat dari para tua-tua yang mendampingi Salomo selama hidupnya, Rehabeam malah mengikuti perkataan orang-orang muda yang sebaya dengan dia dengan mengatakan raja akan menambah tanggungan dengan menghajar mereka dengan cambuk berduri besi (ay. 11, 14). Hal ini ibarat api kecil yang dapat dipadamkan dengan sedikit air, tetapi ternyata malah diguyur dengan bensin. Konflik pun tak terelakkan dan di sinilah awal orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud (ay. 19).
Eskalasi konflik seperti kisah di atas terjadi karena mengabaikan nasihat yang lebih berkualitas, tinggi hati karena menganggap diri sendiri lebih dari orang lain, dan mengutamakan emosi dalam membuat keputusan. Efek negatifnya dapat mewabah melintasi generasi. Karenanya, hindari eskalasi konflik dengan kerendahhatian (Ams. 18:12) dan berusaha mendapatkan perdamaian (Mzm. 34:15) sehingga dapat dicapai solusi tanpa tragedi.
-HC/www.renunganharian.net
SEDAPAT-DAPATNYA, KALAU HAL ITU BERGANTUNG PADAMU, HIDUPLAH DALAM DAMAI DENGAN SEMUA ORANG!-Roma 12:18


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.