HADIAH KEJUJURAN

Baca: AMSAL 11:1-11


Bacaan tahunan: 2 Raja-raja 9-10

Apa yang dilakukan Pak Afuk sungguh langka. Pria berusia 50-an tahun warga Purwodiningratan, Jebres ini mengayuh sepeda ontel dari Solo ke Pasuruan sejauh 276 kilometer untuk mengembalikan dompet berisi STNK dan KTP. Ia sebenarnya sudah mengunggah dokumen tersebut di media sosial, tapi tak ada yang merespons. Akhirnya, Afuk yang bernama asli Tan Le Hok memilih mengantarkan dompet langsung kepada pemiliknya. Tindakan terpuji Pak Afuk tersebut berbuah apresiasi dari PMI Kota Surakarta berupa sepeda gunung, telepon genggam, dan sejumlah uang tunai.

Perihal kejujuran tak pernah habis dipelajari. Bacaan hari ini mengajak kita kembali merenungkan kejujuran. Orang yang tidak jujur adalah kekejian bagi Tuhan. Orang jujur pasti tulus hati karena kejujuran bersumber pada ketulusan hati. Ayat 11 menegaskan bahwa dampak kejujuran bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kota. Betapa diberkatinya sebuah kota jika seluruh warganya bersikap jujur.

Untuk turut memajukan sebuah kota, tak harus menjadi walikota. Apa pun pekerjaan kita, berapa pun usia kita, di sudut mana pun kita tinggal, kita bisa berkontribusi memajukan kota. Salah satu kontribusi terbaik untuk kota adalah kejujuran. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Nilainya tak dapat dibandingkan dengan materi. Di tengah maraknya perilaku koruptif, kejujuran adalah hadiah terindah yang bisa kita persembahkan untuk kota dan juga bangsa. Pak Afuk sudah meneladankan kejujuran, sekarang bagian kita melanjutkannya. --WKR/www.renunganharian.net


KEJUJURAN ADALAH FONDASI TERKUAT MEMBANGUN RUMAH MASA DEPAN.


Navigation

Change Language

Social Media