KESAKSIAN BANI HET

Baca: KEJADIAN 23


Bacaan tahunan: Mazmur 139-143

Sebagai orang asing dan pendatang di kota Hebron, Kanaan, Abraham tidak punya tanah milik yang dapat digunakan untuk menguburkan istrinya, Sara. Maka ia memohon kepada bani Het, agar ia dapat membeli sebidang ladang dari mereka. Tanggapan bani Het sungguh menarik untuk disimak. Mereka menunjukkan rasa hormat yang sangat tinggi kepada Abraham. Mereka menganggapnya seorang raja agung. Mereka juga menjamin bahwa tidak ada yang akan menolak permintaannya. Maka Abraham memilih untuk membeli tanah milik Efron, yakni ladang beserta gua. Itulah yang nantinya menjadi tanah pemakaman keluarga Abraham. Bahkan Ishak dan istrinya Ribka, serta Yakub dan istrinya Lea, nantinya dikuburkan di sana (Kej. 49:29-33).

Rasa hormat yang ditunjukkan penduduk Hebron kepada Abraham tentunya tidak terjadi begitu saja. Melainkan lahir dari kehidupan yang dijalani dengan penuh integritas. Abraham menjalani hidup sedemikian, yakni dengan menaati Allah dan menghormati orang lain. Misalnya saja, ketika ia hendak membeli tanah milik Efron, sejak awal ia mengatakan bahwa ia ingin membelinya dengan harga penuh (ay. 9). Ia tidak mau sang pemilik tanah merasa dirugikan ketika bertransaksi dengannya.

Dalam menjalani hidup, sebenarnya orang-orang mengamati kita. Sikap dan perilaku kita dapat membangkitkan rasa hormat dari orang lain, dan sebaliknya. Karenanya kita hendaknya hidup berpadanan dengan kehendak Allah, agar orang lain bukan hanya menghormati kita, namun juga menghormati Allah yang kita sembah. --HT/www.renunganharian.net


SEBAGAI KITAB TERBUKA YANG BISA DIBACA SEMUA ORANG, KIRANYA HIDUP KITA MENUNTUN ORANG LAIN MENYAKSIKAN KASIH DAN TERANG TUHAN.


Navigation

Change Language

Social Media