Renungan Harian
SIKLUS KETIDAKTAATAN
16 August 2026
Yosua di akhir hidupnya telah menantang umat Israel untuk memilih beribadah kepada Tuhan atau kepada allah bangsa lain. Umat Israel pun akhirnya berkomitmen untuk hanya kepada Tuhan saja mereka akan beribadah dan mendengarkan firman-Nya (Yos. 24:24). Namun, seberapa lama komitmen umat-Nya bertahan?
Setelah Yosua dan para tua-tua seangkatannya mati ternyata mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti allah bangsa Kanaan, yaitu Baal dan para Asytoret. Karena itulah, Tuhan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh di sekitar mereka sehingga mereka merintih dan berseru kepada Tuhan. Tuhan pun berbelas kasihan sehingga membangkitkan hakim-hakim untuk menyelamatkan mereka. Mereka pun mengalami keamanan selama hakim itu hidup. Namun, ketika hakim itu mati maka kembalilah mereka kepada kejahatan mereka, bahkan lebih jahat dari sebelumnya. Begitulah siklus ketidaktaatan umat Israel. Hidup umat Israel seperti penyakit kambuhan, mereka tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Karena itulah, Tuhan membiarkan bangsa-bangsa yang ditinggalkan Yosua dipakai-Nya sebagai alat untuk menegur umat-Nya yang menyimpang agar kembali hidup menurut firman-Nya.
Bukankah kita terkadang juga mempunyai siklus yang demikian? Ketika kita hidup aman, kita melupakan Tuhan sehingga Tuhan memberi kita peringatan yang membuat kita gelisah dan menderita. Namun, ketika kita memohon belas kasihan-Nya, Dia menyelamatkan kita kembali. Biarlah kita menyadari bahwa kita diselamatkan bukan untuk kembali melakukan ketidaktaatan, melainkan untuk melakukan pekerjaan yang baik bagi Dia. Karena itu, marilah kita menghargai karya keselamatan Tuhan dengan ketaatan. --ANT/www.renunganharian.net
Setelah Yosua dan para tua-tua seangkatannya mati ternyata mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti allah bangsa Kanaan, yaitu Baal dan para Asytoret. Karena itulah, Tuhan menyerahkan mereka kepada musuh-musuh di sekitar mereka sehingga mereka merintih dan berseru kepada Tuhan. Tuhan pun berbelas kasihan sehingga membangkitkan hakim-hakim untuk menyelamatkan mereka. Mereka pun mengalami keamanan selama hakim itu hidup. Namun, ketika hakim itu mati maka kembalilah mereka kepada kejahatan mereka, bahkan lebih jahat dari sebelumnya. Begitulah siklus ketidaktaatan umat Israel. Hidup umat Israel seperti penyakit kambuhan, mereka tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Karena itulah, Tuhan membiarkan bangsa-bangsa yang ditinggalkan Yosua dipakai-Nya sebagai alat untuk menegur umat-Nya yang menyimpang agar kembali hidup menurut firman-Nya.
Bukankah kita terkadang juga mempunyai siklus yang demikian? Ketika kita hidup aman, kita melupakan Tuhan sehingga Tuhan memberi kita peringatan yang membuat kita gelisah dan menderita. Namun, ketika kita memohon belas kasihan-Nya, Dia menyelamatkan kita kembali. Biarlah kita menyadari bahwa kita diselamatkan bukan untuk kembali melakukan ketidaktaatan, melainkan untuk melakukan pekerjaan yang baik bagi Dia. Karena itu, marilah kita menghargai karya keselamatan Tuhan dengan ketaatan. --ANT/www.renunganharian.net
MENGHARGAI KARYA KESELAMATAN-NYA AKAN MEMUTUSKAN SIKLUS KETIDAKTAATAN KITA.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.