Renungan Harian
BENARKAH TIDAK DIPANGGIL?
05 August 2026
Ryan melayani Tuhan sebagai pemusik gereja. Rekannya, Denis, melayani sebagai pembina anak-anak jalanan. Edi tidak terjun dalam pelayanan apa pun. Katanya, "Aku tidak dipanggil Tuhan untuk melayani." Kerap orang-orang yang "menganggur" berkata serupa demikian. Terpikir ada sesuatu yang janggal. Benarkah ada orang yang tidak dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya? Jika boleh ditanya dari sudut pandang lain, mungkinkah Tuhan melewatkan seseorang dari panggilan-Nya?
Tuhan berseru, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Kita?" (ay. 8a). Yesaya menjawab, "Ini aku, utuslah aku!" (ay. 8b). Tengoklah, seruan-Nya itu tidak secara khusus ditujukan kepada Yesaya. Namun, telinga Yesayalah yang mendengarnya, hatinya menerimanya, lalu ia menyatakan kesediaannya. Selanjutnya, Tuhan mendeskripsikan tugas-tugasnya kepadanya (ay. 9-10). Sesederhana itulah jalan cerita dari pelayanan Yesaya. Hingga kini, jalan ceritanya masih sama. Tuhan sedang berseru kepada setiap kita, bertanya siapakah yang mau bekerja bagi-Nya. Apabila kita membuka telinga, akan kita mendengar seruan-Nya. Apabila kita membuka hati, akan kita berkata, "Ini aku, utuslah aku!"
Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Bukan Tuhan pilih-pilih orang yang dipanggil-Nya, melainkan banyak orang tidak menyerahkan dirinya untuk dipilih-Nya. Entah telinga dan hati belum terbuka atau telinga sudah terbuka, tetapi hati masih tertutup. Mari buka telinga rohani, juga hati kita. Yesaya menyambut pelayanannya saat ia, dalam sebuah penglihatan, menyaksikan kehadiran Tuhan (ay. 1). Demikian saat kita memandang ke hadirat-Nya, kita akan menyadari bahwa kita juga dipanggil-Nya. Mendekatlah kepada Allah maka akan kita memahami kehendak-Nya untuk dilakukan. --LIN/www.renunganharian.net
Tuhan berseru, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Kita?" (ay. 8a). Yesaya menjawab, "Ini aku, utuslah aku!" (ay. 8b). Tengoklah, seruan-Nya itu tidak secara khusus ditujukan kepada Yesaya. Namun, telinga Yesayalah yang mendengarnya, hatinya menerimanya, lalu ia menyatakan kesediaannya. Selanjutnya, Tuhan mendeskripsikan tugas-tugasnya kepadanya (ay. 9-10). Sesederhana itulah jalan cerita dari pelayanan Yesaya. Hingga kini, jalan ceritanya masih sama. Tuhan sedang berseru kepada setiap kita, bertanya siapakah yang mau bekerja bagi-Nya. Apabila kita membuka telinga, akan kita mendengar seruan-Nya. Apabila kita membuka hati, akan kita berkata, "Ini aku, utuslah aku!"
Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Bukan Tuhan pilih-pilih orang yang dipanggil-Nya, melainkan banyak orang tidak menyerahkan dirinya untuk dipilih-Nya. Entah telinga dan hati belum terbuka atau telinga sudah terbuka, tetapi hati masih tertutup. Mari buka telinga rohani, juga hati kita. Yesaya menyambut pelayanannya saat ia, dalam sebuah penglihatan, menyaksikan kehadiran Tuhan (ay. 1). Demikian saat kita memandang ke hadirat-Nya, kita akan menyadari bahwa kita juga dipanggil-Nya. Mendekatlah kepada Allah maka akan kita memahami kehendak-Nya untuk dilakukan. --LIN/www.renunganharian.net
SERUAN UNTUK BEKERJA BAGI KERAJAAN SURGA DITUJUKAN TUHAN BAGI SEMUA ORANG, HANYA TIDAK SEMUA ORANG MENDENGAR DAN MENANGGAPINYA.


Komentar
Masuk untuk berkomentar
Untuk menulis komentar, Anda harus masuk terlebih dahulu.
To post a comment, you need to sign in first.