Raja Tampan Yang Tolol
Raja Tampan Yang Tolol
Ketika bangsa Israel meminta seorang raja seperti bangsa-bangsa lain, Allah mengizinkan mereka memilih seorang pemimpin. Tuhan memilih Saul, seorang yang bertubuh tinggi, tampan, dan rendah hati, untuk menjadi raja pertama atas Israel. Melalui nabi Samuel, Saul diurapi menjadi raja dan memimpin bangsa Israel menghadapi musuh-musuh mereka.
Pada awal pemerintahannya, Saul memimpin dengan baik dan memperoleh beberapa kemenangan karena pertolongan Tuhan. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai lebih mengandalkan dirinya sendiri daripada menaati firman Allah.
Suatu hari, ketika menunggu Samuel untuk mempersembahkan kurban, Saul menjadi tidak sabar. Ia mengambil tugas yang bukan haknya dan mempersembahkan kurban sendiri. Kemudian, ketika Tuhan memerintahkannya untuk memusnahkan seluruh milik orang Amalek, Saul kembali tidak taat. Ia membiarkan Raja Agag hidup dan menyimpan ternak-ternak yang terbaik dengan alasan ingin mempersembahkannya kepada Tuhan.
Melalui Samuel, Allah menyatakan bahwa ketaatan lebih berharga daripada kurban. Karena Saul menolak menaati firman Tuhan, Allah juga menolak Saul sebagai raja atas Israel. Sejak saat itu, kerajaan Saul tidak lagi mendapat perkenanan Allah, dan Tuhan mulai mempersiapkan seorang pemimpin baru yang hidup menurut kehendak-Nya.
Kisah Saul mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya melihat penampilan atau kemampuan seseorang, tetapi terutama hati yang mau taat kepada-Nya. Keberhasilan sejati datang dari mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.
Satu cerita dari Firman Tuhan, Alkitab, yang terdapat dalam 1 Samuel 8-15

