Yehezkiel: Manusia Penglihatan
Yehezkiel: Nabi yang Melihat Penglihatan dari Allah
Bertahun-tahun setelah bangsa Yehuda hidup dalam ketidaktaatan, tentara Babel menyerang Yerusalem. Banyak orang dibawa menjadi tawanan ke negeri Babel, termasuk seorang imam muda bernama Yehezkiel. Jauh dari tanah airnya, Yehezkiel tinggal bersama para tawanan di tepi Sungai Kebar. Di sanalah Tuhan memanggilnya menjadi nabi untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat Israel.
Suatu hari, Yehezkiel mendapat sebuah penglihatan yang luar biasa. Ia melihat angin badai datang bersama awan besar dan cahaya yang berkilauan. Di tengah cahaya itu tampak empat makhluk hidup, masing-masing mempunyai empat wajah dan empat sayap. Di samping mereka terdapat roda-roda yang penuh dengan mata, yang bergerak mengikuti ke mana Roh Allah memimpin. Di atas kepala makhluk-makhluk itu terbentang sesuatu yang menyerupai kristal yang berkilauan, dan di atasnya terdapat sebuah takhta yang indah bagaikan batu safir. Di atas takhta itu tampak Pribadi yang memancarkan kemuliaan Allah, dikelilingi sinar yang menyerupai pelangi. Ketika melihat kemuliaan Tuhan itu, Yehezkiel segera sujud menyembah.
Kemudian Tuhan membawa Yehezkiel dalam penglihatan ke Bait Allah di Yerusalem. Di sana ia melihat sesuatu yang sangat menyedihkan. Rumah Tuhan yang seharusnya kudus telah dipenuhi penyembahan berhala. Di dinding-dindingnya tergambar berbagai binatang yang najis, dan para pemimpin bangsa diam-diam menyembah patung-patung. Bahkan ada orang-orang yang menyembah matahari di pelataran Bait Allah. Tuhan menunjukkan semua itu kepada Yehezkiel agar bangsa Israel mengetahui bahwa dosa dan penyembahan berhala telah memenuhi hati mereka. Karena itulah kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Allah, sebagai tanda bahwa hukuman akan datang atas Yerusalem.
Namun, Tuhan tidak hanya memberikan penglihatan tentang hukuman. Ia juga memperlihatkan sebuah penglihatan yang penuh harapan. Yehezkiel dibawa ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering. Tulang-tulang itu melambangkan bangsa Israel yang merasa tidak lagi memiliki harapan. Atas perintah Tuhan, Yehezkiel bernubuat kepada tulang-tulang itu. Tulang-tulang mulai bersatu, dibungkus urat, daging, dan kulit. Ketika Roh Allah berembus ke dalamnya, mereka hidup kembali dan berdiri sebagai suatu pasukan yang sangat besar. Melalui penglihatan ini, Tuhan menyatakan bahwa Ia sanggup memulihkan umat-Nya, memberi kehidupan yang baru, dan membawa mereka kembali kepada-Nya.
Yehezkiel juga menerima penglihatan tentang masa depan, ketika Allah akan memberikan hati yang baru kepada umat-Nya, menaruh Roh-Nya di dalam mereka, dan memulihkan hubungan-Nya dengan Israel. Semua penglihatan itu menunjukkan bahwa meskipun Allah menghukum dosa, kasih dan janji-Nya tidak pernah gagal. Ia tetap menyediakan pengharapan bagi setiap orang yang mau kembali kepada-Nya.
Kisah Yehezkiel mengajarkan bahwa Allah itu kudus dan membenci dosa, tetapi Ia juga adalah Allah yang penuh kasih, sanggup menghidupkan kembali mereka yang tidak memiliki harapan, serta memulihkan umat-Nya melalui kuasa Roh-Nya.
Satu cerita dari Firman Tuhan, Alkitab, yang terdapat dalam Kitab Yehezkiel

